
AMBON,Nunusaku.id,- Ancaman terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kini telah mengalami perubahan. Jika dahulu ancaman lebih banyak berbentuk agresi fisik dan militer, saat ini bangsa Indonesia menghadapi perang multidimensi, termasuk perang kognitif yang berupaya memengaruhi pola pikir, persepsi, keyakinan, emosi, hingga perilaku masyarakat melalui ruang digital.
“Saat ini kita hadapi perang multidimensi, termasuk perang kognitif yang secara sistematis berupaya memengaruhi cara berpikir, persepsi, keyakinan, emosi, bahkan ideologi masyarakat melalui penyebaran informasi yang menyesatkan,” tandas Walikota Ambon Bodewin Wattimena saat membuka sosialisasi dan diseminasi Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN) Lingkup Pendidikan Kota Ambon yang diselenggarakan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia di Hotel Santika Ambon, Kamis (30/07/26).
Wattimena mengatakan, kegiatan tersebut bukan sekadar sosialisasi biasa, tetapi bagian dari program prioritas nasional untuk membangun karakter bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia tahun 1945, UU nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, serta berbagai kebijakan nasional yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, berbagai ancaman di ruang digital seperti penyebaran hoaks, propaganda digital, ujaran kebencian, radikalisme, intoleransi, budaya konsumtif akibat penggunaan aplikasi digital, kecanduan gim daring, praktik pinjaman online ilegal, judi online, hingga manipulasi opini publik melalui media sosial menjadi tantangan serius yang harus dihadapi bersama.
Yang lebih mengkhawatirkan, lanjutnya, sasaran utama dari berbagai ancaman tersebut adalah generasi muda sebagai kelompok yang paling aktif memanfaatkan teknologi digital.
“Ketika ruang digital dipenuhi informasi yang tidak terverifikasi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas pengetahuan generasi muda, tetapi juga identitas kebangsaan, rasa cinta tanah air, semangat persatuan, bahkan kepercayaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.
Karena itu, Walikota berharap, generasi muda mampu menjadi benteng kognitif bangsa dengan memiliki kemampuan berpikir kritis, literasi digital yang baik, mampu membedakan fakta dan opini, menolak hoaks, tidak mudah terprovokasi, serta tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila dan UUD.
Wattimena juga menegaskan, bela negara di era modern tidak lagi dimaknai semata-mata sebagai kesiapan mengangkat senjata. Tetapi diwujudkan melalui kontribusi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Belajar dengan sungguh-sungguh, mahasiswa yang berprestasi dan inovatif, guru yang mendidik dengan keteladanan, pemuda yang menjaga persatuan, hingga masyarakat yang bijak menggunakan media sosial merupakan bentuk nyata implementasi bela negara.
“Bela negara hari ini diwujudkan melalui sikap, perilaku, dan kontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat. Semua memiliki peran menjaga bangsa sesuai profesi dan tanggung jawab masing-masing,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Walikota juga ingatkan, Kota Ambon memiliki modal sosial sangat kuat melalui filosofi Orang Basudara yang diwariskan para leluhur. Nilai-nilai seperti Ale Rasa Beta Rasa dan Potong di Kuku Rasa di Daging harus terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menjadi slogan.
“Persatuan dan kesatuan harus selalu ditempatkan di atas segala-galanya. Nilai hidup orang basudara harus menjadi benteng yang menjaga masyarakat Ambon dari berbagai upaya perpecahan,” ujarnya.
Ia juga mengajak generasi muda meneladani semangat perjuangan para pahlawan asal Maluku seperti Kapitan Pattimura dan Martha Christina Tiahahu sebagai inspirasi untuk terus menumbuhkan nasionalisme dan cinta tanah air.
Selain semangat bela negara, Wattimena menilai generasi muda harus menjadi teladan dalam menerapkan moderasi beragama. Sebab Indonesia dibangun di atas keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan adat istiadat yang justru menjadi kekuatan bangsa.
“Moderasi beragama mengajarkan kita untuk saling menghormati, menolak ekstremisme, hindari ujaran kebencian, serta mengedepankan dialog dan persaudaraan. Terlebih Ambon pernah mengalami konflik, sehingga menjaga perdamaian adalah amanah yang harus terus diwariskan kepada generasi muda,” ungkapnya.
Ia memastikan Pemerintah Kota Ambon akan terus mendukung berbagai program pembinaan karakter, pendidikan bela negara, dan penguatan wawasan kebangsaan sebagai investasi jangka panjang untuk mencetak generasi muda yang berintegritas, berkarakter, serta siap menjadi pemimpin bangsa di masa depan. (NS-02)




