
AMBON,Nunusaku.id,– Wakil Walikota (Wawali) Ambon, Ely Toisuta mengajak seluruh sekolah dasar (SD) di Kota Ambon agar membangun gerakan membaca yang lebih masif, termasuk membiasakan siswa membaca minimal satu buku setiap minggu, kemudian menceritakan kembali isi buku tersebut serta membuat ringkasan atau resensi menggunakan bahasa mereka sendiri.
Selain itu, Ely juga mendorong sekolah mengembangkan berbagai program literasi seperti Library Day, memperkuat pemanfaatan perpustakaan sekolah, hingga memperkaya kosakata peserta didik melalui kegiatan membaca yang berkelanjutan.
“Kebiasaan membaca harus ditanamkan sejak dini. Setelah membaca, anak-anak harus diberi kesempatan untuk menceritakan kembali isi bacaan, kemudian menuliskannya dalam bentuk ringkasan atau resensi. Dengan cara ini kemampuan literasi mereka akan semakin berkembang,” katanya saat membuka lomba Bertutur tingkat SD/MI Kota Ambon tahun 2026 yang mengusung tema “Melalui Bertutur Kita Tingkatkan Minat Baca dan Kecintaan Terhadap Budaya Bangsa” di Kamari Hotel Ambon, Senin (20/07/26).
Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ambon tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memperkuat budaya literasi, meningkatkan minat baca anak, sekaligus melestarikan budaya bertutur dan kearifan lokal di kalangan generasi muda.
Di kesempatan itu, Ely menyoroti masih rendahnya budaya membaca di Indonesia. Ia mengutip pandangan sastrawan Taufiq Ismail yang pernah menyebut kondisi tersebut sebagai “tragedi nol buku”, karena rata-rata lulusan SMA di Indonesia saat itu belum memiliki kebiasaan membaca buku sebagaimana pelajar di berbagai negara lain.
Menurut Ely, kondisi tersebut masih relevan hingga saat ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat minat baca anak Indonesia baru mencapai sekitar 17,66 persen, sedangkan minat menonton mencapai 91,67 persen. Anak-anak saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial seperti YouTube, TikTok, Facebook, dan Instagram dibandingkan membaca buku.
“Durasi membaca masyarakat Indonesia rata-rata hanya sekitar 30 hingga 59 menit setiap hari, masih jauh di bawah standar UNESCO. Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama karena anak-anak kita sedang menghadapi darurat literasi,” ujarnya.
Pemerintah melalui kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sejak tahun 2025 akuinya, telah mendorong peserta didik untuk membiasakan membaca buku serta membuat tulisan atau referensi sebagai pengganti sebagian tugas Lembar Kerja Siswa (LKS). Kebijakan itu bertujuan membangun budaya membaca sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan mandiri.
Selain itu, Wawali juga mengimbau seluruh kepala satuan pendidikan di Kota Ambon agar memperkuat kolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Gemar Membaca (TGM).
Ia mengungkapkan, pada penilaian tahun 2025 terdapat 246 sekolah yang menjadi sampel, namun hanya 115 sekolah yang menyampaikan data sehingga berdampak pada rendahnya nilai TGM Kota Ambon yang berada di angka 59,75, sementara IPLM tercatat 17,74.
“Melalui lomba bertutur ini kita tidak hanya mengajak anak-anak membaca buku, tetapi juga melatih mereka memahami isi bacaan, mengolah emosi dan imajinasi, serta berani tampil berbicara di depan umum. Anak-anak hebat lahir dari kebiasaan baik yang ditanamkan sejak dini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, bertutur kembali tentang cerita rakyat, legenda daerah, maupun kisah kepahlawanan menjadi bagian penting dalam menjaga nilai-nilai budaya, moral, budi pekerti, dan kearifan lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Kepada seluruh peserta, Ely menyampaikan apresiasi karena telah berani mengikuti kompetisi tersebut. “Kalian semua adalah pemenang. Jangan takut kalah. Jadikan lomba ini sebagai pengalaman yang menyenangkan untuk menunjukkan bakat, keberanian, dan kemampuan terbaik kalian,” pesannya.
Lebih lanjut ditambahkannya, investasi terbaik bagi masa depan Kota Ambon bukan hanya pembangunan infrastruktur, melainkan pembentukan karakter dan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ambon, Corneles Moniharapon, dalam laporannya menjelaskan, sebanyak 46 peserta dari SD dan MI se-Kota Ambon mengikuti tahap seleksi awal melalui video berdurasi 5 hingga 7 menit. Dari jumlah tersebut, 30 peserta berhasil lolos ke babak final.
“Pelaksanaan kegiatan didanai melalui APBD Kota Ambon tahun 2026 melalui DPA Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ambon. Panitia menyediakan total hadiah sebesar Rp18 juta yang diberikan kepada enam peserta terbaik, mulai dari juara pertama hingga juara keenam,” tandasnya.
Corneles berharap kegiatan tersebut mampu meningkatkan kemampuan literasi peserta didik, membangun kepercayaan diri dalam berbicara di depan umum, memperkuat karakter, sekaligus melahirkan generasi muda yang mencintai budaya membaca dan budaya bertutur sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya bangsa. (NS-02)




