Coastal Road Ambon: Bukan Sekadar Janji, Ini Momentum Sejarah
doktor hobart

By: Dr. Hobarth Williams Soselisa, D.Sos., M.Si

AMBON,Nunusaku.id,- Setiap kota besar di dunia yang kita kagumi hari ini pernah berada di titik yang sama: memiliki visi besar yang belum terwujud, dengan skeptisisme publik yang menggunung di depannya.

Singapura pernah hanyalah pelabuhan kumuh sebelum Marina Bay mengubahnya menjadi pusat peradaban dunia. Makassar pernah memiliki Pantai Losari yang semrawut sebelum reklamasi menjadikannya ruang publik ikonik kebanggaan Sulawesi.

Manado pernah memiliki pantai terbengkalai sebelum konsep Waterfront city mengangkatnya menjadi destinasi wisata bertaraf nasional.

Kini Ambon berdiri di persimpangan yang sama. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Maluku, ada seorang pemimpin yang tidak sekadar berbicara tentang visi itu — tetapi dengan gigih memperjuangkannya hingga ke meja-meja keputusan di Jakarta.

Jujur harus diakui; Kota Ambon menyimpan paradoks yang menyedihkan: dikelilingi keindahan teluk yang memukau, namun infrastruktur pesisirnya menjadi salah satu yang paling tertinggal di kawasan Timur Indonesia.

Kemacetan kronis, kawasan pesisir yang tidak tertata, dan absennya ruang publik yang layak adalah kenyataan sehari-hari yang kontras dengan julukan “Ambon Manis e.”

Lebih dari itu, rencana pembangunan kawasan pesisir Ambon bukan hal baru — kajian reklamasi Pesisir Talake sebagai taman kota telah ada jauh sebelumnya, namun tidak pernah tuntas dilaksanakan.

Inilah beban sejarah yang harus dipikul Coastal Road: ia hadir ditengah masyarakat yang sudah terlalu sering dikecewakan oleh janji-janji pembangunan yang menguap bersama pergantian kepemimpinan.

Disinilah sosok Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa (HL), tampil sebagai variabel pembeda yang krusial.

Sejak awal kepemimpinannya, HL menempatkan Coastal Road bukan sekadar sebagai proyek infrastruktur biasa, melainkan sebagai perwujudan nyata dari Sapta Cita Maluku yang menjadi visi besar, mencakup pemerataan infrastruktur, perlindungan lingkungan, hingga harmoni sosial bagi seluruh rakyat Maluku.

Ia tidak hanya mengumumkan proyek ini dari podium seremonial, tetapi secara pribadi turun tangan memperjuangkannya di tingkat pusat adalah sebuah perjuangan yang mulai membuahkan hasil nyata ketika Kementerian PU akhirnya menurunkan tim survei teknis ke lapangan.

Sikap HL mencerminkan kepemimpinan yang langka: berani bertaruh dengan reputasinya sendiri demi kepentingan rakyat.

Dukungan Senayan Mengalir 

Ketika Komisi V DPR RI melakukan kunjungan spesifik meninjau rencana pembangunan Coastal Road, Gubernur Lewerissa hadir mendampingi langsung bersama Walikota Ambon Bodewin Wattimena, menggunakan kapal laut untuk meninjau kawasan tersebut secara langsung.

Ini bukan gestur seremonial — ini adalah pesan tegas kepada pemerintah pusat dan seluruh pemangku kepentingan bahwa Maluku serius, dan pemimpinnya siap bertanggungjawab.

Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Roberth Rouw, pun menegaskan; DPR RI siap mendorong dukungan anggaran agar harapan masyarakat Maluku segera terwujud.

Lebih dari sekadar teknis infrastruktur, HL memahami bahwa Coastal Road adalah pernyataan martabat — bahwa rakyat Maluku di ujung timur Indonesia berhak atas fasilitas publik bertaraf nasional, bahwa Ambon layak berdiri setara dengan Makassar, Manado, bahkan kota-kota besar di Pulau Jawa.

Inilah bentuk cinta seorang pemimpin kepada rakyat dan daerahnya: bukan diungkapkan dengan kata-kata, melainkan dengan keberanian mengambil risiko politik demi mewujudkan perubahan yang nyata bagi rakyatnya.

Rubah Wajah Maluku dari Ibukota

Data dan fakta komparatif memberi dasar empiris yang kuat bahwa proyek semacam ini, bila dieksekusi dengan serius, mampu mentransformasi sebuah kota secara fundamental.

Pantai Losari, Makassar, yang dulunya semrawut, kini menjadi kawasan bisnis dan pariwisata terpadu yang terbukti mendorong perputaran ekonomi sosial masyarakat sekitar secara signifikan, sekaligus mengangkat Makassar sebagai kota metropolitan paling dinamis di Indonesia Timur.

Manado Waterfront City dengan garis pantai 18 kilometer berhasil menciptakan Central Business District baru, menyumbangkan Pendapatan Asli Daerah yang signifikan, dan menjadikan Manado sebagai gerbang ekonomi kawasan.

Ambon, dengan panjang Coastal Road yang direncanakan mencapai 21 kilometer dan kekayaan budaya serta sumber daya kelautan yang lebih beragam, memiliki modal komparatif yang tidak kalah — bahkan berpotensi lebih unggul.

Pada skala global, Marina Bay Singapura membuktikan bahwa investasi infrastruktur pesisir yang terencana menghasilkan multiplier effect ekonomi yang berlipat ganda: mempekerjakan puluhan ribu tenaga kerja, menarik investasi asing, dan menerima lebih dari 45 juta pengunjung per tahun.

Dengan investasi Coastal Road senilai Rp 20 Triliun, potensi perputaran ekonomi jangka menengah di Kota Ambon seharusnya jauh melampaui angka investasi tersebut — menciptakan lapangan kerja baru, menggerakkan UMKM pesisir, mendorong sektor pariwisata maritim, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan riil masyarakat Maluku secara menyeluruh.

Namun, kemegahan fisik hanyalah kulit luar. Inti dari Coastal Road — sebagaimana visi yang diusung HL — adalah kesejahteraan rakyat.

Ini berarti nelayan tradisional tidak boleh diusir, melainkan mendapat zona ekonomi khusus untuk memasarkan hasil lautnya. Ini berarti masyarakat pesisir dilibatkan sejak perencanaan, bukan sekadar menjadi penonton atas perubahan yang terjadi di halaman rumah mereka sendiri.

Penelitian pengelolaan pesisir Teluk Ambon menegaskan bahwa keberhasilan hanya dapat diraih bila melibatkan partisipasi masyarakat adat dan komunitas lokal secara total — dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan.

Inilah yang membedakan pembangunan yang mengabdi kepada rakyat dari pembangunan yang mengabdi kepada citra semata.

Bisa dibayangkan apabila warga Kota Ambon berjalan di sepanjang boulevard pesisir yang asri, anak-anak bermain di ruang terbuka hijau tepi laut, para pengunjung dari seluruh nusantara datang menyaksikan waterfront city yang berpadu dengan tarian Cakalele, musik tifa, dan aroma rempah yang melegenda.

Bukan utopia — ini adalah realitas yang telah terbukti di Losari, di Manado, di Marina Bay. Kini giliran Ambon. Dan dengan kepemimpinan seorang Hendrik Lewerissa yang mau bertaruh reputasinya demi rakyat, kita punya alasan kuat untuk percaya bahwa kali ini tidak akan berakhir sebagai catatan kaki dalam sejarah janji-janji yang terlupakan.

“Ambon Manis e” bukan lagi cukup sebagai syair nostalgia. Di tangan pemimpin yang tepat, dengan dukungan rakyat yang teguh, ia akan menjadi deklarasi kemajuan yang bisa dilihat, dirasakan, dan dinikmati setiap anak negeri Maluku. Semoga tercipta ungkapan yang melegenda untuk diingat bahwa Yang Ada, Ada. Seng Adapun, Ada. (**)

 

Views: 2
Facebook
WhatsApp
Email