KADIN Maluku Siapkan Pengusaha Lokal Ikut Bersaing di Blok Masela, Bukan Jadi Penonton
IMG-20260620-WA0084

AMBON,Nunusaku.id,- Implementasi proyek Gas Abadi Blok Masela di Kepulauan Tanimbar sudah di depan mata, setelah groundbreaking rencananya dilakukan akhir bulan Juni 2026 ini.

Proyek tersebut digadang-gadang akan menjadi lokomotif baru pertumbuhan ekonomi Maluku. Namun dibalik peluang investasi bernilai ratusan triliun rupiah itu, terdapat tantangan besar yang harus segera dijawab dunia usaha lokal, yakni kesiapan untuk bersaing dan terlibat dalam proyek strategis nasional itu.

Kesadaran itulah yang mendorong Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Maluku menggelar diskusi bulanan bertajuk “Blok Masela, Peran Dunia Usaha dan Prospek Ekonomi Maluku” di Coffee Ujung JMP, Ambon, Sabtu (20/6).

Diskusi hadirkan akademisi Universitas Pattimura, perwakilan pemerintah dan pelaku usaha, diantaranya Dr. Hanok Mandaku, Dr. Agustinus Ufie, Ketua DPP Apindo Maluku Roberth Tanama, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Maluku, Dr. Anton A. Lailossa serta Ketua KADIN Maluku, M.A.S Latuconsina.

Usai diskusi, Latuconsina mengungkapkan, diskusi ini sebagai tindak lanjut dari hasil kajian yang dilakukan Universitas Pattimura (Unpatti) bersama INPEX terkait kesiapan dunia usaha Maluku menghadapi pembangunan Proyek Gas Abadi Masela.

Hasil kajian tersebut menunjukkan fakta yang tidak bisa diabaikan. Secara kualitatif, sebagian besar vendor dan pelaku usaha lokal dinilai masih belum memenuhi standar yang dibutuhkan untuk masuk dalam rantai bisnis industri migas berskala internasional.

“Kita harus jujur melihat kondisi ini. Jangan sampai kita terlalu bersemangat menyambut Masela, tetapi ketika proyek berjalan justru tidak siap mengambil bagian di dalamnya,” kata Latuconsina.

Meski demikian, ia menilai peluang masih terbuka lebar. Pasalnya, tahapan konstruksi utama proyek masih akan berlangsung sekitar satu setengah tahun lagi. Waktu itu harus dimanfaatkan untuk membenahi berbagai kelemahan yang masih dimiliki pelaku usaha lokal.

Menurutnya, KADIN sebagai organisasi induk dunia usaha memiliki tanggungjawab untuk memastikan pengusaha Maluku tidak hanya menjadi penonton ketika proyek terbesar di kawasan timur Indonesia itu mulai berjalan.

“Kita tidak ingin masyarakat dan pengusaha Maluku hanya menyaksikan proyek ini dari luar pagar. Kita harus menjadi bagian dari rantai bisnis yang tercipta. Tetapi untuk sampai ke sana, kita harus siap,” tegasnya.

Peluang dalam proyek Masela akuinya, tidak hanya terbuka pada sektor konstruksi, tetapi juga di berbagai bidang jasa dan pengadaan barang yang berkaitan dengan industri minyak dan gas. Namun sebagian besar pekerjaan itu membutuhkan standar teknis, administrasi, dan manajemen yang ketat.

Karena itu, KADIN mulai mendorong agenda besar peningkatan kapasitas vendor lokal. Mulai dari pembenahan administrasi perusahaan, kepatuhan perpajakan, penguatan modal usaha, hingga pemenuhan berbagai sertifikasi yang menjadi syarat untuk bermitra dengan perusahaan nasional maupun internasional.

“Kalau kita ingin dipercaya vendor nasional atau perusahaan besar, maka perusahaan kita juga harus siap. Administrasi harus jelas, legalitas lengkap, kantor ada, laporan keuangan baik, dan memiliki rekam jejak yang bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Sebagai Direktur PT Maluku Energi Abadi (MEA) yang mengelola Participating Interest (PI) 10 persen Blok Masela, Latuconsina mengaku memiliki kepentingan besar agar manfaat ekonomi proyek tersebut benar-benar dirasakan masyarakat Maluku.

Menurutnya, hasil diskusi akan ditindaklanjuti dalam bentuk rekomendasi dan langkah-langkah konkret untuk mempercepat peningkatan kualitas pelaku usaha lokal.

Upaya tersebut juga tidak hanya difokuskan di Kota Ambon, tetapi akan libatkan pelaku usaha di seluruh kabupaten/kota di Maluku, terutama dua daerah yang akan menerima dampak langsung proyek Masela, yakni Kabupaten Tanimbar dan Maluku Barat Daya (MBD).

“Kita ingin momentum Masela menjadi titik kebangkitan ekonomi Maluku. Jika investasi ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan melibatkan pengusaha lokal secara maksimal, maka dampaknya akan terasa pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penurunan angka kemiskinan,” katanya.

Ia optimis dengan persiapan yang matang dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, proyek Gas Abadi Masela tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga menjadi jalan bagi lahirnya pengusaha Maluku yang lebih kuat, profesional, dan mampu bersaing di level nasional maupun global. (NS)

Views: 21
Facebook
WhatsApp
Email