Indonesia–Australia Bersinergi di Ambon, Dorong Inovasi Pengelolaan Sampah & Transisi Energi Berkeadilan
IMG-20260616-WA0003

AMBON,Nunusaku.id,- Kota Ambon kembali menjadi pusat perhatian dalam upaya pembangunan berkelanjutan.

Melalui kolaborasi strategis antara Indonesia dan Australia, sebuah program inovatif untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus mendorong transisi energi berkeadilan resmi diluncurkan di Kota Ambon.

Program bertajuk “Advancing an Equitable and Just Energy Transition in Ambon through Community-Based Waste Innovation and Inclusive Education” akan diawali dengan Kick-Off Meeting di Ruang Rapat Vlissingen, Balai Kota Ambon, Rabu (17/6). Kegiatan ini dijadwalkan dibuka Walikota Ambon, Bodewin Wattimena.

Kolaborasi internasional ini melibatkan Soegijapranata Catholic University (SCU), Macquarie University Australia, Pemerintah Kota Ambon, Politeknik Negeri Ambon, dan Institut Tifa Damai Maluku.

Program tersebut mendapat dukungan dari KONEKSI melalui kemitraan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), LPDP, serta Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia.

Kepala DLHP Ambon, Apries Gaspersz menyebut, program yang akan berjalan hingga tahun 2027 ini difokuskan pada penguatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah plastik, pengembangan inovasi teknologi yang sesuai kondisi lokal, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya lingkungan yang berkelanjutan.

Ketua Tim Peneliti Indonesia, Dr. Yustina Trihoni Nalesti Dewi, menegaskan, pendekatan yang digunakan dalam program ini bukanlah menghadirkan solusi dari luar, melainkan membangun solusi bersama masyarakat berdasarkan potensi yang telah dimiliki Kota Ambon.

“Masyarakat Ambon memiliki pengalaman, pengetahuan, dan kekuatan sosial yang luar biasa. Program ini hadir untuk belajar bersama, memperkuat kapasitas yang sudah ada, dan mengembangkan solusi yang lahir dari kebutuhan serta potensi masyarakat sendiri,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat akan menjadi aktor utama. Berbagai kelompok seperti komunitas lingkungan, bank sampah, kelompok perempuan, pemuda, sekolah, organisasi masyarakat, hingga pemerintah daerah akan dilibatkan sejak tahap identifikasi masalah hingga penerapan solusi.

Dikatakan, salah satu inovasi yang menjadi fokus program adalah pengembangan teknologi pirolisis skala lokal, yakni teknologi yang mampu mengubah sampah plastik menjadi energi dan produk bernilai ekonomi.

“Teknologi ini dirancang agar dapat diterapkan sesuai kondisi Kota Ambon dan berpotensi dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat setelah program berakhir,” ungkap Yustina.

Tidak hanya berorientasi pada teknologi, program ini juga menempatkan pendidikan lingkungan sebagai pilar penting. Berbagai kegiatan edukasi akan dilakukan untuk membangun kesadaran kolektif mengenai pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Pemerintah Kota Ambon melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) menyambut baik inisiatif tersebut. Kehadiran program ini dinilai sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mewujudkan Ambon sebagai kota yang bersih, hijau, dan partisipatif.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan mitra internasional ini diharapkan mampu menghasilkan model pengelolaan sampah yang efektif, inklusif, dan dapat direplikasi di berbagai daerah lainnya di Indonesia.

Lebih dari sekadar proyek lingkungan, program ini menjadi bukti bahwa keberhasilan transisi menuju masa depan yang berkelanjutan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta inovasi yang tumbuh dari kebutuhan lokal.

Bagi Kota Ambon, kerjasama Indonesia–Australia ini menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah sekaligus membuka peluang lahirnya berbagai inovasi berbasis masyarakat yang mendukung pembangunan berkelanjutan di Maluku. (NS-02)

Views: 5
Facebook
WhatsApp
Email