
(Refleksi atas Ketangguhan Spiritual Ditengah Kompleksitas Hidup)
Oleh: Marla Beatriecs Kailola
AMBON,Nunusaku.id,- Ada yang sedang tidak beres dalam tatanan dunia ini. Rupiah kembali melemah, harga minyak mentah dunia melambung per barel, dan di ujung rantai panjang itu — seperti biasa — rakyat kecillah yang paling merasakan himpitannya.
Harga kebutuhan pokok merayap naik tanpa permisi, biaya hidup tumbuh lebih cepat dari upah yang diterima, dan kebijakan-kebijakan yang lahir dari ruang ber-AC itu sering kali terasa asing dari denyut nadi kehidupan nyata yang sesak dan lelah.
Ini bukan sekadar soal angka. Ini soal martabat manusia yang perlahan-lahan digerus sistem yang lebih berpihak pada modal daripada pada manusia.
Krisis ekonomi tidak turun dari langit tanpa sebab. Ia adalah buah dari keputusan-keputusan panjang yang diambil di lorong-lorong kekuasaan — keputusan tentang tata kelola energi, tentang ketergantungan pada pasar global, tentang siapa yang dilindungi dan siapa yang dibiarkan menanggung beban.
Ketika Rupiah melemah, bukan hanya nilai tukar yang anjlok. Yang anjlok adalah kepercayaan masyarakat bahwa negara hadir untuk mereka, bukan sekadar untuk angka-angka pertumbuhan yang dipamerkan dalam rapat kabinet.
Namun disinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya lebih dalam: jika struktur diluar diri kita tidak bisa sepenuhnya diandalkan, dari mana manusia mengambil kekuatan untuk tetap berdiri?.
Sejarah peradaban manusia menyimpan satu pelajaran yang terus berulang: sistem bisa runtuh, kekuasaan bisa berganti, pasar bisa kolaps — tetapi ada sesuatu dalam diri manusia yang secara konsisten menolak untuk ikut hancur bersama keadaan.
Sesuatu itu bukan otot, bukan pula kalkulasi rasional semata. Ia adalah dimensi spiritual yang menjadi akar ketangguhan paling dalam dari seorang manusia.
Untuk menghadapi hal itu, ada kesaksian yang paling berharga dari seorang manusia; Rasul Paulus yang hidupnya bukan hanya berhadapan dengan fluktuasi ekonomi tetapi dengan penjara, cambukan, dan ancaman kematian — meninggalkan sebuah kesaksian yang terasa seperti tamparan lembut bagi kita yang mudah putus asa oleh krisis: “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat”.
Kalimat itu bukan klise rohani yang kosong. Ia adalah laporan jujur dari seseorang yang telah menemukan bahwa di titik terdalam kelemahan manusia, justru kekuatan yang paling otentik mulai berbicara — kekuatan yang tidak bisa dipangkas kebijakan fiskal manapun.
Sering kali spiritualitas dituduh sebagai candu — cara manusia melarikan diri dari realita yang menyakitkan. Tuduhan itu tidak sepenuhnya salah jika yang dimaksud adalah spiritualitas pasif, yang mengajarkan orang untuk diam menerima ketidakadilan sambil menunggu mukjizat turun dari langit.
Namun ada bentuk spiritualitas yang berbeda — yang tidak membelakangi realita, melainkan justru menghadapinya dengan mata terbuka dan kepala tegak.
Iman yang kokoh bukan iman yang buta pada ketidakadilan struktural. Ia adalah iman yang melihat ketidakadilan itu dengan jernih, merasakannya dengan penuh, namun tidak membiarkan ketidakadilan itu menjadi kata terakhir dari kehidupannya.
Pengharapan, dalam pengertian ini, adalah tindakan perlawanan yang paling sunyi namun paling kuat — sebuah keputusan aktif untuk tidak membiarkan sistem yang gagal mendefinisikan siapa diri kita dan ke mana hidup kita akan pergi.
Ada paradoks yang tidak nyaman namun jujur: kemakmuran yang terlalu mudah sering kali memiskinkan jiwa, sementara penderitaan yang dihadapi dengan benar justru memperkayanya.
Bukan karena penderitaan itu baik adanya, melainkan karena di dalamnya manusia dipaksa melepaskan genggamannya pada hal-hal yang selama ini ia kira penting, dan mulai bertanya tentang hal-hal yang sesungguhnya kekal.
Seorang nelayan di pesisir yang harus membayar solar dua kali lebih mahal dari bulan lalu tahu satu hal yang mungkin tidak diketahui oleh para analis ekonomi di balik layar laptopnya: bahwa hidup ini lebih besar dari angka-angkanya.
Dan dari kesadaran itulah — bukan dari stabilnya indikator makroekonomi — kebahagiaan yang paling sejati tumbuh dan bertahan. Ditengah Rupiah yang melemah dan harga minyak yang terus mendaki, pertanyaan terpenting bukan hanya bagaimana bertahan secara ekonomi — meski itu juga penting dan mendesak.
Pertanyaan terpenting adalah dari mana kita mengambil bahan bakar untuk tetap manusiawi ditengah tekanan yang mendehumanisasi. Jawabannya tidak akan ditemukan di papan bursa.
Ia ditemukan di kedalaman jiwa yang berakar pada pengharapan dan iman yang kokoh — dua kekuatan spiritual yang tidak pernah tercatat dalam laporan keuangan manapun, namun dampaknya nyata dalam setiap keputusan, setiap langkah, dan setiap cara manusia memilih untuk tetap berdiri.
Dunia boleh terus bergolak, sistem boleh terus gagal, tetapi jiwa yang berakar dalam iman tahu satu hal yang tidak bisa dirampas oleh krisis manapun: ia tidak menghadapi semuanya sendirian, dan badai ini pun — seperti semua badai sebelumnya — akan berlalu juga. (***)



