
AMBON,Nunusaku.id,— Nuansa adat, sejarah, dan semangat perjuangan menyelimuti kawasan Pattimura Park, Kota Ambon, saat peringatan Hari Pahlawan Nasional Kapitan Thomas Matulessy ke 209 yang digelar penuh khidmat, Senin (18/05).
Upacara yang dipimpin Walikota Ambon, Bodewin Wattimena mewakili Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum membangkitkan kembali roh perjuangan orang basudara di bumi raja-raja.
Hadir dalam upacara itu Wakil Gubernur (Wagub) Maluku Abdullah Vanath, Ketua Tim Penggerak (PKK) Maluku Maya Baby Lewerissa, Pj Sekretaris Kota Ambon Robby Sapulette, unsur Forkopimda Provinsi dan Kota, pimpinan OPD, para raja negeri adat serta tokoh masyarakat.
Prosesi adat menjadi salah satu bagian paling sakral dalam upacara tersebut. Raja Negeri Batu Merah, Ali Hatala, menyerahkan obor perjuangan kepada Walikota untuk menyalakan obor induk di depan Patung Pattimura sebagai simbol api perjuangan yang diwariskan lintas generasi masyarakat Maluku.
Usai penyalaan obor, Walikota bersama Wagub meletakan karangan bunga sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar Kapitan Pattimura dalam memperjuangkan martabat rakyat Maluku melawan penjajahan.
Gubernur melalui Walikota tegaskan, cita-cita besar Indonesia Emas 2045 tidak akan pernah tercapai tanpa kemajuan Maluku sebagai daerah kepulauan yang kaya sejarah, budaya, dan sumber daya.
“Maluku tidak boleh hanya menjadi penonton dalam arus besar pembangunan nasional. Maluku harus bangkit, bergerak maju, dan menjadi daerah kepulauan yang kuat, mandiri, sejahtera, dan bermartabat,” tegasnya.
Menurutnya, perjuangan Kapitan Pattimura 209 tahun silam bukan hanya tentang perlawanan fisik, melainkan tentang harga diri dan keberanian rakyat Maluku mempertahankan tanah leluhur.
“Kapitan Pattimura mengajarkan bahwa perjuangan sejati lahir dari cinta kepada rakyat dan tanah air. Beliau tidak berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi demi masa depan generasi Maluku,” ungkapnya.
Dalam suasana penuh refleksi sejarah itu, pemerintah juga mengajak masyarakat Maluku untuk menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan.
Pesan itu disampaikan sebagai pengingat bahwa nilai-nilai perjuangan Pattimura harus terus hidup di tengah kehidupan masyarakat modern.
“Jika hari ini kita masih mudah terpecah, malas bekerja, takut bersaing, dan membiarkan kemiskinan terjadi, maka perjuangan itu belum selesai,” ujarnya.
Mengusung tema “Teladani Perjuangan Pattimura, Wujudkan Maluku yang Gemilang Menuju Indonesia Emas 2045,” peringatan tahun ini dinilai bukan sekadar slogan, melainkan panggilan sejarah bagi seluruh anak negeri Maluku untuk melanjutkan perjuangan para leluhur dalam bentuk yang lebih modern.
Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan parang dan salawaku, maka hari ini perjuangan dilakukan melalui pendidikan, inovasi, kerja keras, dan semangat persaudaraan orang basudara.
Pemerintah Provinsi Maluku juga menyoroti sejumlah agenda strategis nasional yang menjadi harapan besar masyarakat Maluku, mulai dari pengembangan Blok Masela, pembangunan Maluku Integrated Port, hingga perjuangan pengesahan RUU Daerah Kepulauan di DPR RI dan DPD RI.
Seluruh agenda itu dinilai membutuhkan persatuan dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat agar Maluku mampu berdiri sejajar sebagai salah satu kekuatan pembangunan nasional.
Karena itu masyarakat diajak untuk terus menjaga identitas budaya dan semangat kebersamaan sebagai kekuatan utama orang Maluku.
“Jangan pernah merasa kecil menjadi orang Maluku. Katong harus bangga karena dari tanah ini lahir semangat perjuangan, persaudaraan, dan keberanian yang tidak pernah padam,” tutupnya penuh semangat. (NS-02)





