Gubernur: Festival Ogoh-ogoh Modal Sosial Perkuat Kebersamaan Masyarakat Maluku
0-4064x3048-0-0-{}-0-24#

AMBON,Nunusaku.id,- Festival pawai Ogoh-ogoh kembali ditampilkan dengan semarak di jalanan kawasan Kota Ambon sebagaimana tradisi setiap tahun bagi umat Hindu menyambut hari Raya Nyepi.

Kali ini di Tahun Baru Saka 1948/2026 Masehi, pawai yang dipadukan dengan “Batu Ijo” itu mengusung tema “Satu Bumi, Satu Keluarga; Katong Samua Basudara” dilepas Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa (HL) yang didampingi forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) Maluku dan Walikota Ambon Bodewin Wattimena.

Ketua DPRD Kota Ambon Morits Tamaela, Rektor UKIM Dr. Steve Gaspers dan Rektor IAKN Ambon Prof. Dr Jance Z Rumahuru juga ikut saksikan pawai yang mengambil start dari depan gong Perdamaian Dunia Ambon, Rabu (18/3/26) sore.

Gubernur menyebut, pawai tahun ini terasa spesial karena Nyepi dan hari raya Idul Fitri berdekatan waktunya. Sehingga semaraknya terasa mewarnai kehidupan warga kota Ambon khususnya dan Maluku pada umumnya.

“Kita lihat betapa antusias masyarakat dari berbagai kalangan begitu banyak menyaksikan pawai Ogoh-ogoh ini mulai dari Gong Perdamaian hingga seluruh area yang dilalui peserta pawai,” tandas Lewerissa.

Menurutnya, pawai Ogoh-ogoh tak sekedar pentasan budaya yang bermakna khusus bagi orang Hindu di Kota Ambon semata, namun acara ini menegaskan bahwa Ambon dan Maluku memiliki modal atau kekuatan sosial untuk memperkuat kebersamaan diantara masyarakat Maluku.

Atraksi ini juga akui Gubernur, senafas dengan nuansa Ramadan yang bertujuan mengingatkan umat Hindu dan Islam tentang pentingnya pengendalian diri, memperkokoh kebersamaan, kedamaian serta menjaga hubungan dengan sang pencipta, sesama manusia dan alam semesta.

“Ini menjadi sesuatu yang baik bagi masyarakat Maluku yang majemuk. Kita berharap, perayaan Nyepi dan Idul Fitri di Maluku dapat berlangsung aman dan damai, dirayakan penuh sukacita. Kita pun larut dalam suasana yang sama sebagai bentuk solidaritas sebagai warga Maluku,” terang Gubernur.

Festival Pawai Ogoh-ogoh mengambil start dari depan gong perdamaian dunia, jalan Pattimura, Tugu Trikora, jalan AM Sangadji, jalan A.Y Patty dan kembali finish di Gong Perdamaian.

“Ogoh-ogoh ini dianyam dari bambu.  Pembuatannya memakan waktu 1,5 bulan. Menariknya, dalam proses membuatnya warga agama-agama lain ikut terlibat. Ini bentuk kolaborasi dan toleransi yang kuat sebagai warga Maluku,” sebut Ketua Panitia Pawai Ogoh-ogoh.

Sementara, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Ambon dr. Ida Bagus menyebut, pawai Ogoh-ogoh jelang Nyepi ini agenda tahunan yang tidak untuk dipuja, tetapi mengingatkan dan menyadarkan umat Hindu bahwa ada bentuk energi yang tidak seimbang dan karenanya harus dilawan dengan energi positif.

“Tema satu bumi, satu keluarga dalam Nyepi Tahun Baru Saka 1948 ini memberi pesan penting bagi semua umat Hindu di Kota Ambon khususnya dan Maluku pada umumnya agar menghormati perbedaan, saling menghargai sebab kita semua bersaudara,” jelasnya.

Memaknai Hari Raya Nyepi tambahnya, bukan sekedar tidak menyalakan lampu atau api maupun tidak bepergian keluar, bersenang-senang atau tamasya, tetapi menjadi waktu khusus untuk hening, merenungi dan merefleksikan diri menjadi manusia yang lebih baik. (NS)

Views: 0
Facebook
WhatsApp
Email