
AMBON,Nunusaku.id,- Pemilihan Umum (Pemilu) baik Presiden-Wakil Presiden maupun legislatif telah tuntas dihelat seiring penetapan hasilnya oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI 20 Maret 2024, walau proses PHPU masih bergulir di Mahkamah Konstitusi (MK).
Selepas Pemilu, pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak tahun 2024 sudah di depan mata yang sesuai rencana akan digelar 27 November 2024 mendatang termasuk di Maluku. Dengan proses dan tahapan sudah dimulai rentan Juni atau Juli.
Selain pemilihan Gubernur (Pilgub), pemilihan Walikota (Pilwakot) Ambon juga mulai panas diperbincangkan publik. Sejumlah nama mengemuka khusus menyoroti siapa suksesor Maluku-1 kedepan. Selain incumbent Murad Ismail (MI), ada juga Jefry Apoly Rahawarin (JAR) dan Febry Calvin Tetelepta (FCT).
Belakangan ini pasca penetapan Prabowo Subianto sebagai Presiden Indonesia terpilih periode 2024-2029 bersama Gibran Rakabuming Raka, muncul nama Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Prabowo-Gibran Maluku, Hendrik Lewerissa sebagai kompetitor calon orang nomor satu di Maluku.
HL, sapaan akrab Lewerissa masuk bursa usai sukses memimpin komando pemenangan TKD hingga berhasil mencapai angka kemenangan telak 665.371 suara atau 61,59 persen bagi Prabowo-Gibran di Maluku pada Pemilu lalu.
Selain itu, HL yang juga Ketua DPD Gerindra Maluku telah berhasil mempertahankan satu kursi Gerindra ke Senayan DPR-RI dapil Maluku lima tahun kedepan. Dua torehan positif itu menunjukkan kapasitas dan kekuatan politik HL bersama Gerindra layak diperhitungkan di kontestasi politik Maluku.
Pengamat politik dari FISIP UNPATTI, Dr Paulus Koritelu mengaku, kehadiran Lewerissa masuk bursa calon Gubernur tentu menjadi menarik dan pembeda, karena sejak tahun lalu tidak muncul ke permukaan, hanya FCT, JAR dan incumbent yang dibincangi.
Menarik dan akan jadi pembedanya sosok HL bersaing, atas sejumlah alasan. selain kekuatan politik dan chemistry yang jelas ke pusat seiring terpilihnya Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sebagai Presiden, tetapi juga komposisi lima (5) kursi milik Gerindra di DPRD sangat strategis.
“Kedekatan Lewerissa dan Prabowo kalau kita ikuti seperti adik-kakak. Itu kuat sekali chemistrynya. Dia sangat dipercaya Prabowo. Jelas itu menjadi kekuatan dan sumberdaya yang menguatkan posisi tawar jika kedepan jadi Gubernur Maluku,” tandasnya.
Koritelu lantas memprediksi, masuknya HL di bursa, mempertegas kemungkinan hanya akan ada tiga poros besar di Pilgub Maluku nanti. Dengan Gerindra memimpin poros atau koalisi dengan calon Gubernurnya HL bersama Rovik Afifuddin atau Saadiah Uluputty yang mengemuka sebagai calon Wakil Gubernur saat ini.
Poros kedua akan dipimpin PDI Perjuangan sebagai pemenang Pileg di Maluku dengan kekuatan 8 kursi di parlemen. Serta Golkar walau hanya 4 kursi di DPRD Maluku pada Pileg 2024, tapi tetap menjadi partai tua dengan deretan kader potensial, yang diprediksi mengkomando poros ketiga.
“Jika pun dimungkinkan diperkuat beberapa dukungan lain, NasDem bisa juga memimpin satu koalisi. Artinya, dalam dinamika peradaban politik Maluku, PDI Perjuangan sulit koalisi dengan Golkar,” akunya.
Menurut Koritelu, itu tradisi perpolitikan Maluku yang jarang ditemui PDIP-Golkar satu kubu mengusung calon Gubernur, pasti berhadap-hadapan. Bisa ditelisik dalam 20 tahun terakhir Pilkada, dua periode Karel Ralahalu, 5 tahun Said Assagaff dan 5 tahun Murad Ismail.
Karena itu, Pilkada Maluku nanti Golkar masih belum munculkan kader ke publik sebagai calon Gubernur. Demikian juga PDI Perjuangan. Sebab dua nama yang mengemuka baik Jeffry Rahawarin maupun FCT bukanlah pimpinan partai dengan basis kursi jelas dan diisukan berebut kedua partai itu.
“Kartu truf sekarang ada di NasDem. Apakah berani majukan calonnya dengan modal 6 kursi di parlemen DPRD untuk pimpin koalisi sendiri, atau merapat ke poros Gerindra, PDIP atau Golkar,” urainya via seluler saat dihubungi, Jum’at (29/3).
Teori probabilitas sangat penting di dunia politik. Maka bisa terjadi dengan tiga poros utama atau adanya poros baru di Pilgub. Sebab syarat 20 persen dukungan partai politik atau gabungan partai mengusung kandidat, mesti dihitung.
“Termasuk siapa calon wakil Gubernur, akan jadi penentu kesuksesan politik calon Gubernur itu sendiri,” terang Koritelu.
Konfigurasi perpolitikan Maluku yang dilandasi basis sentimen agama tertentu jelas tidak bisa dilepas pisahkan seiring adanya momentum kekuatan politik yang dihubungkan dengan kesepakatan-kesepakatan kolektif sebelumnya.
Maka banyaknya kandidat masuk untuk Pilgub Maluku melawan incumbent Gubernur nanti tidak bisa dinafikan dan makin memberi alternatif pilihan. Bahkan ketika publik inginkan perubahan bagi Maluku di berbagai aspek, dan itu tidak mampu diwujudkan Incumbent.
“Ini tentu memberi warna menarik di Pilgub nanti. Sebab pasti incumbent akan coba menerobos kebakuan sistem dan kesepakatan universal yang tidak tertulis. Secara akumulatif, sentimen agama impactnya besar,” ulasnya.
Berkaca dari beberapa kali Pilgub di 20 tahun terakhir tentu menurut Koritelu, ini bisa jadi pelajaran penting dan mesti terbaca dalam pemahaman politik masyarakat. Padahal di tataran elit, konstruksi akan hal itu sangat menarik dipertimbangkan dan diperhatikan.
“Sekiranya itu menjadi perhatian, maka posisi incumbent ada di ujung tanduk. Sebaliknya jika terabaikan, maka kekuatan incumbent masih cukup kuat walau interval waktu selesai menjabat panjang, tujuh bulan,” jelasnya.
Kecuali lanjut Koritelu, jika Danlantamal IX Ambon Brigjen Mar Said Latuconsina ikut bertarung di Pilgub, akan menjadi sebuah konfigurasi politik yang sangat dinamis nanti.
Pasalnya Said akan menambah daftar nama Jenderal TNI di kontestasi politik Maluku, tetapi disisi lain bisa memecah kekuatan incumbent dan suara konfigurasi agama yang selama ini menjadi basis-basis akumulasi suara politik.
“Itu juga akan memperlihatkan, bukan saja wacana. Tapi dalam tataran pragmatis, ini membutuhkan pola-pola konsolidasi yang jauh lebih permanen dan rasional untuk mendulang suara politik masyarakat nantinya,” urainya.
Sementara menyoal peluang incumbent, Koritelu menilai, tetap ada di Pilgub. Karena sudah ada modal capital yang dipersiapkan lewat penunjukkan Bupati/Walikota yang ada di beberapa Kabupaten/Kota di Maluku.
Tetapi juga incumbent akan manfaatkan daya dukung dari sumber-sumber kekuatan lain seperti gengsi “korps”. Yang akan terlihat trendnya jelang momen pesta demokrasi itu, ada peningkatan kasus korupsi yang masif pada beberapa bagian yang erat kaitan dengan kandidat lain.
“Jika itu terjadi, maka polanya belum berubah. Yang saya anggap itu menjadi bagian dari capital politik yang dimilikinya. Tidak menjadi rahasia umum lagi, jika semua sumberdaya itu akan dimaksimalkan untuk mempertahankan kekuasaan lima tahun mendatang,” urainya.
Faktor lain tentu akan juga ditentukan dengan kecerdasan memilih calon Wakil Gubernur yang harus mendapat simpati masyarakat, seiring banyak antipati publik Maluku akibat janji politik lima tahun sebelumnya yang tidak terealisasi dan bisa jadi “batu sandungan” berkuasa periode kedua. (NS)





