
AMBON,Nunusaku.id,- Seruan Ramadhan damai dan tetap memperkuat persatuan di Bumi Raja-raja datang dari tokoh lintas agama maupun aparat keamanan.
Seruan itu dikumandangkan lewat dialog publik interaktif di studio RRI Ambon, Jumat (6/3) yang membahas upaya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) selama bulan Ramadan hingga perayaan Idul Fitri di wilayah Maluku.
Dialog hadirkan empat narasumber lintas sektor, yakni Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku Abdullah Latuapo, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Maluku Pdt. Richardo Rikumahu, akademisi dan Sosiolog Dr. Paulus Koritelu, serta Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Rositah Umasugi.
Forum ini menjadi ruang dialog publik yang menegaskan pentingnya kolaborasi antara aparat keamanan, tokoh agama, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial di daerah yang dikenal memiliki keberagaman agama dan budaya yang kuat.
Ketua MUI Maluku, Abdullah Latuapo menegaskan, Ramadan merupakan momentum spiritual yang mendorong umat untuk memperkuat akhlak dan toleransi.
Menurutnya, para tokoh agama di Maluku secara aktif turun ke masyarakat untuk menyampaikan pesan perdamaian dan memperkuat nilai kebersamaan.
“Puasa adalah Madrasah bagi umat Islam untuk memperbaiki akhlak dan meningkatkan ketakwaan. Dalam kehidupan sosial, yang paling utama adalah akhlak yang baik, karena agama hadir untuk memanusiakan manusia,” kata Latuapo.
Ia juga mengingatkan, pembinaan generasi muda harus dimulai dari lingkungan keluarga.
“Kami mengimbau para orang tua agar membina dan mengawasi anak-anak dengan baik, terutama di era media sosial saat ini. Karakter generasi muda yang baik berawal dari pendidikan dan teladan di dalam keluarga,” ujarnya.
Senada, Wakil Ketua I FKUB Maluku Pdt. Richardo A. Rikumahu menyebut, Ramadan di Maluku telah menjadi momentum kebersamaan lintas agama.
Ia menilai tradisi buka puasa bersama hingga kegiatan sosial lintas komunitas menjadi simbol harmoni masyarakat Maluku.
“Ramadan di Maluku sudah menjadi milik bersama. Banyak kegiatan yang melibatkan lintas agama, seperti buka puasa bersama dan kegiatan sosial lainnya. Ini menunjukkan masyarakat Maluku semakin matang dalam menjaga toleransi,” ujarnya.
Rikumahu juga mengapresiasi Polda Maluku yang dinilai konsisten menjaga keamanan wilayah. “Apresiasi atas kerja keras Polda Maluku dalam memberikan rasa aman bagi masyarakat. Kehadiran kepolisian yang responsif sangat membantu menjaga stabilitas sosial di daerah ini,” katanya.
Sementara, Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Rositah Umasugi tegaskan, kepolisian telah meningkatkan langkah-langkah preventif melalui Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD) guna mengantisipasi potensi gangguan Kamtibmas selama Ramadan.
Menurut Rositah, meningkatnya aktivitas masyarakat pada bulan suci—seperti pasar takjil, kegiatan sahur bersama, hingga mobilitas di pusat perbelanjaan—memerlukan pengamanan ekstra dari aparat.
“Situasi ini memiliki potensi kerawanan sehingga Polda Maluku melakukan kegiatan rutin yang ditingkatkan melalui patroli di wilayah rawan, pengamanan tempat ibadah, serta pengaturan lalu lintas agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman,” ujarnya.
Ditambahkan, patroli dan pengawasan juga difokuskan pada lokasi yang berpotensi timbulkan gangguan Kamtibmas, termasuk wilayah yang rawan peredaran minuman keras (Miras).
“Wilayah Maluku memiliki sensitivitas sosial tertentu sehingga pendekatan pencegahan menjadi prioritas. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk berpartisipasi menjaga keamanan lingkungan bersama aparat kepolisian,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rositah juga menjelaskan, Polda Maluku terus mengembangkan pendekatan sosial melalui program Baileo Emarina – Rumah Bersama serta Polima (Polisi Lingkungan Masyarakat).
Program ini bertujuan memperkuat peran tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam menyelesaikan persoalan sosial secara dialogis di tingkat komunitas.
“Melalui program Baileo Emarina dan Polima, kami mengedepankan peran tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam penyelesaian masalah di tengah masyarakat. Tidak semua persoalan harus berakhir di pengadilan. Pendekatan dialog dan musyawarah sering kali menjadi solusi terbaik bagi masyarakat,” jelasnya.
Selain itu, Polda Maluku juga melakukan sosialisasi kepada orang tua terkait peran penting keluarga dalam membina generasi muda.
“Peran orang tua sangat penting dalam mengawasi dan membina anak-anak. Jika pengawasan keluarga kuat, maka potensi konflik sosial yang melibatkan generasi muda dapat diminimalkan,” tegasnya.
Sosiolog Paulus Koritelu menilai tingkat kedewasaan sosial masyarakat Maluku saat ini semakin meningkat. Ia melihat masyarakat tidak lagi mudah terprovokasi informasi yang menyesatkan, terutama di media sosial.
“Kesadaran masyarakat Maluku saat ini semakin baik. Kita melihat beberapa informasi yang menyesatkan dapat langsung ditangkal masyarakat sendiri. Ini menunjukkan bahwa pola pikir masyarakat semakin dewasa,” ujarnya.
Koritelu menekankan pentingnya edukasi toleransi secara berkelanjutan, terutama bagi generasi muda. “Damai dan konflik ibarat dua sisi mata uang. Maka pendidikan toleransi harus intensif, tidak hanya pada momentum Ramadhan tetapi secara berkelanjutan kepada generasi muda,” tutupnya. (NS)




