
Liang,Nunusaku.id,- Langit cerah membumbung diatas Negeri Liang Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah pagi tadi. Pertanda alam ikut bersahabat dan mendukung niat mulia yang tengah dilakukan.
Sedari masuk Negeri yang kaya akan potensi wisata itu, mulai dari tua muda, perempuan lelaki hingga anak-anak Negeri terlihat sukacita dan sumringah. Wajah-wajah penuh senyum melintas mengikuti jejak para tetamu yang datang.
Memberi pesan penting; mereka tidak mau lagi berkonflik dan bertikai. Tak ada lagi dua pihak dengan sekat, matahari masuk dan matahari keluar. Hanya satu: Negeri Liang yang aman dan damai.
Yah, Provinsi Maluku selalu punya cara berbeda mendamaikan dua kelompok masyarakat yang bertikai, termasuk di Liang. Bukan dengan pendekatan hukum, tapi menumbuhkan lagi nuansa kearifan lokal: makan Patita.
Sebuah tradisi yang menyuguhkan makanan khas Maluku berjejer diatas dedaunan kelapa. Semua warga duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dibawah tenda sepanjang 10 meter di pusat Negeri.
Ikut berbaur dan duduk bersilah bersama warga Liang tanpa jarak, ada Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Kapolda Maluku Irjen Pol Dadang Hartanto, Ketua DPRD Maluku Benhur Watubun, Kapoksahli mewakili Pangdam XV/Pattimura dan Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir.
Barisan Forkopimda itu turun langsung ke lapangan, menunjukkan keseriusan negara hadir ditengah rakyat untuk rekonsiliasi sosial, bukan sekadar memberi komando dari balik meja rapat.
Juga para Raja dari Jazirah Salahutu dan Leihitu, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, kepala-kepala Soa hingga anggota DPRD Maluku dapil Maluku Tengah tak ketinggalan di momen istimewa itu.
Suasana makan Patita yang jadi puncak rekonsiliasi, berjalan penuh kebersamaan, persaudaraan serta kekeluargaan. Menunjukkan Liang ingin maju dan berubah.
Sebelum itu, dua kelompok pemuda pun mengangkat sumpah, ikrar berdamai di depan Gubernur dan Forkopimda yang dipandu Raja atau Upulatu Ama Riang Uli Sailesi, Taslim Samual.
Saling rangkul dan memeluk, semakin menguatkan komitmen damai sampai mati, yang tidak saja berbaris rapi di secarik kertas. Tapi diwujudnyatakan.
“Kami warga Negeri Liang berkomitmen menjaga keamanan dan ketertiban di Negeri ini,” ungkap Taslim.
“Kami warga Negeri Liang sepakat menyelesaikan perbedaan secara musyawarah dan menolak segala bentuk kekerasan,” tambahnya menegaskan ikrar damai yang ditandatangani secara tertulis itu.
Rekonsiliasi sosial yang datang dari kesadaran masyarakat secara langsung itu bukan sebatas ucapan, tapi benar-benar diilhami di Ama Riang Uli Sailesi. Suasana batin itu juga turut dirasakan sungguh Gubernur Lewerissa.
“Rekonsiliasi ini sebetulnya berasal dari bawah. Aspirasinya tumbuh dari bawah. Pemerintah, didukung pihak kepolisian hanya memfasilitasi,” tandasnya.
Sebagai kepala daerah yang menginginkan kedamaian selalu tercipta di masyarakat, Gubernur berterima kasih atas peran serta aparat keamanan. Baik Kapolda, Kapolresta, Pangdam, Ketua DPRD, Bupati, Raja serta perangkat Negeri dan terutama masyarakat Liang.
“Bersyukur karena masyarakat Liang sungguh mengendaki rekonsiliasi melalui makan Patita damai ini dan bisa terjadi. Ini memberi pesan penting betapa kesadaran lahir dari kemauan dan niat baik akan berbuah manis,” ungkapnya penuh syukur.
Hari ini menjadi momen bersejarah untuk Liang yang satu, tak ada lagi dua. Kedamaian telah terangkai. Gubernur pun berharap, apa yang terjadi ini menjadi role model atau contoh bagi negeri, kampung dan dusun lain.
“Bahwa jika ada pertentangan di internal, baiklah kita duduk bersama, bicara dari hati ke hati menyelesaikan dengan pendekatan kearifan lokal yang dimiliki oleh kita sebagai orang Maluku,” ingat Gubernur.
Sebab, menurut Lewerissa, tidak ada manfaat dari perselisihan, bentrok atau konflik yang melibatkan masyarakat. Yang ada hanya mudaratnya.
“Kasihan kan generasi muda kita, anak-anak sekolah, orang-orang tua, orang tua Lansia tidak tenang dan nyaman beraktivitas. Kita semua butuhkan perdamaian. Dan tentu kita harapkan bukan semu, tapi perdamaian permanen, abadi dan berasal dari kehendak kuat masyarakat untuk berdamai,” tutup Gubernur dengan nada tegas.
Rekonsiliasi sosial melalui Makan Patita di Liang bukanlah sekedar seremonial. Tetapi bentuk penegasan betapa tradisi dan adat istiadat menjadi kekuatan perekat masyarakat yang berbeda, menyatukan benang kusut dan merangkai nilai hidup sebagai orang basudara.
Juga sebagai wujud daripada komitmen untuk bersatu padu dan bahu membahu dalam membangun Maluku yang lebih baik.
Karena Maluku sejatinya laboratorium kerukunan. Rumah bersama yang nyaman dan aman untuk semua. Gestur sederhana namun penuh makna yang ditunjukkan Gubernur Hendrik Lewerissa ditengah masyarakat Liang menjadi penguat bahwa negara hadir bukan hanya untuk mendampingi, tetapi juga mendamaikan rakyatnya penuh kasih. (NS)





