Kongres ke-30 AMGPM Dimulai; Keteladanan Kasih Allah & Transformasi Pendidikan Kader Penting Diingatkan
IMG-20251012-WA0015

AMBON,Nunusaku.id,- Kongres ke-30 Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) sebagai wadah tertinggi pengambilan keputusan organisasi resmi dimulai, Minggu (12/10).

Jemaat Passo Klasis Pulau Ambon Timur menjadi sentral pembahasan program-isu strategis serta akan menjadi saksi lahirnya kepemimpinan yang baru di AMGPM.

Pesan penting dan serius disampaikan Ketua Umum Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM Pendeta Elifas Tomix Maspaitella saat membuka Kongres di The Natsepa Hotel Suli, Minggu.

Dalam pidatonya yang menggugah, Pendeta Ely menegaskan bahwa gereja bukanlah sekadar lembaga keagamaan, tetapi komunitas iman yang hidup oleh karena anugerah Allah, dan dipanggil untuk melayani dengan kasih yang tak terbatas.

“Hanya oleh anugerah (Solagratia), Gereja berdiri dan bertumbuh,” tegas Pendeta Ely.

Eks Ketum PB AMGPM ini mengatakan, dasar keberadaan Gereja bukanlah kekuatan manusia, melainkan pengosongan diri Kristus—kenosis—yang mencapai puncaknya di salib. Dari teladan Yesus itu, Gereja belajar untuk memimpin bukan dengan kuasa, tetapi dengan kerendahan hati dan pelayanan.

“Gereja adalah komunitas iman yang mempraktekkan etika kenotik, untuk juga mengakui bahwa Kristuslah pemimpin yang menunjukkan teladan kepemimpinan yang melayani sambil mengosongkan diri-Nya. Di situlah kita memahami makna penting dari Tema Pelayanan GPM 2025-2030: “Anugerah Allah Melengkapi dan Meneguhkan Gereja Menuju 1 Abad GPM” (1 Petrus 5:10) dan Sub Tema: Layanilah Umat Dengan Tekun Sesuai Kasih Allah,” papar Pendeta Ely.

Ia menegaskan, anugerah Allah itu harus diresponi dengan pelayanan yang tekun, dalam arti memberi diri, sebab level kasih kita, para pelayan, yang adalah para gembala, harus mencapai level kasih Allah (Agape), yakni kasih yang tidak terbatas, tidak bertepi, tidak berakhir, kasih yang rela memberi diri sampai habis.

“Watak kepemimpinan Gereja dan AMGPM mesti ditaruh dalam takaran tersebut. Di luar itu hanyalah didorong oleh ambisi, bukan panggilan menggembalakan,” ingatnya.

Pendeta Ely menyebut, gelaran Kongres ke-30 AMGPM ini diselenggarakan dalam masa transisi generasi, yang ditandai dengan lahirnya generasi Beta (2025-2039).

Artinya, AMGPM dituntut terbuka pada proses-proses transisi, sehingga tidak harus terjebak lagi para ritme dan pola strukturalisme, melainkan lebih fungsional dan lincah mengadaptasi diri sambil melakukan perubahan-perubahan yang membuat AMGPM menjadi tetap relevan dan tangguh.

“AMGPM memasuki masa itu harus tetap berpijak pada nilai dan citra dirinya, dan harus menjadikannya bagian dari nilai universal itu sehingga AMGPM tidak kehilangan peran yang menerangi dan menggarami,” jelasnya.

“Di masa itu kita tidak sekedar berbicara tentang fungsi, melainkan faedah. Sebab fungsi sebagai terang dan garam dapat diambil alih oleh organ-organ alternatif. Tetapi faedah Terang dan Garam hanya dapat diberi oleh organ utama (primus) dari terang dan garam, yaitu kekristenan dan karena itu AMGPM,” ucapnya.

Dengan begitu, Pendeta Ely mengaku, sesungguhnya forum Kongres diingatkan bahwa ini waktunya AMGPM melakukan transformasi yang serius dan sungguh-sungguh pada Pendidikan Kader dan Pendidikan Spiritualitas Kader.

Dua aktifitas ini tidak bisa dipandang subtitusi program organisasi melainkan panggilan khusus untuk dijalankan dan wajib diikuti semua kader.

Pendidikan Kader, ingat Pendeta Ely, di era ini penting memberi wawasan yang kuat kepada kader AMGPM bahwa semua aspek kehidupan umat manusia telah bersifat global.

“Jadi kader kita harus dipersiapkan untuk memiliki kapasitas diri yang lebih sebab ini bukan sekedar era kompetisi melainkan meleburkan diri, atau menjadikan diri sebagai aktor dalam dinamika perubahan,” sebut Pendeta Ely.

AMGPM tambahnya, perlu melihat realitas sosial masyarakat adat di pedalaman dan pelosok sebagai ruang anugerah Allah. Bahwa perjuangan untuk kesejahteraan mereka harus diperjuangkan dengan memberdayakan diri dan potensi sumber daya setempat, dengan pendekatan ramah sosial, ramah budaya dan ramah lingkungan.

“Kita harus mewariskan lingkungan sosial dan budaya yang menumbuhkan rasa bangga masyarakat adat terhadap diri dan tanah mereka. Bukan membiarkan mereka menerima relokasi yang mencabut akar budayanya,” jelasnya.

Ia berpesan, AMGPM sudah harus terbuka pada pembangunan wilayah dengan memacu semangat dan keterampilan kader di sektor ekonomi, dengan fokus pada pengelolaan potensi pangan/ekonomi lokal.

Sebab era ini sudah tidak ada lagi alasan menjadi pengangguran. Semua hal bisa dikerjakan dan semua pekerjaan bisa digeluti.

“Setiap kader harus menjadi subjek ekonomi bagi diri dan keluarganya. Intinya adalah kader kita harus dibangun. Kader memberdayakan kader,” tandasnya.

Dalam kesadaran itu, ia tetap meyakini sungguh AMGPM terus menjadi lingkungan pembinaan iman pemuda Gereja yang mampu menghimpun dan menggembalakan pemuda GPM sebagai warga gereja yang inklusif-pluralis.

Ia mengingatkan, Kongres ini harus dijadikan sebagai forum yang spiritualis dan berintegritas.

“Disini kita menyatukan rasa cinta kepada misi Gereja lalu mengambil keputusan iman yang harus dijadikan akta, yaitu dikerjakan sebagai wujud melayani dengan tekun sesuai kasih Allah. ltulah harapan dan doa kami.,” pungkasnya. (NS)

Views: 6
Facebook
WhatsApp
Email