
PIRU,Nunusaku.id,- Perjalanan penuh makna kembali ditempuh Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa (HL) menuju Bumi Saka Mese Nusa. Lintasi jalan darat dan laut dengan penyeberangan kapal Ferry dijalani sempurna.
Kehadirannya khusus ke Negeri Piru, ibukota Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) untuk meresmikan Rumah Adat atau Baileo Hena Hatutelu, Selasa (30/9/25), menjadi simbol komitmen pemerintah daerah menjaga warisan budaya kepada anak cucu.
Dibawah langit Seram yang terik menyengat, pertanda alam ikut bersahabat. Gubernur HL yang tampak gagah dengan setelan kemeja bermotif khas Maluku beriringan dengan beberapa mobil menuju pusat acara.
Hadir mendampingi Gubernur yaitu Asisten II Setda Maluku Kasrul Selang, Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Maluku Ilham Tauda, Kadis P3MD, Bupati, Wakil Bupati dan Sekda SBB.
Setiba, warga Negeri Hena Hatutelu, dari tua muda, laki-laki, perempuan, anak kecil hingga yang beruban putih sudah menyemut, menjemput Upulatu Maluku dengan kalungan kain motif lokal bertuliskan “Hena Hatutelu”. Sembari kain gandong putih mengitari, tanda kuatnya ikatan sebagai satu keluarga, tanpa membedakan.
Tetua adat lalu angka “Kapata” yang diikuti tarian Cakalele, mengarak masuknya Gubernur HL dan rombongan ke Rumah Adat yang akan diresmikan.

Walau ditengah suasana panas siang, namun dengan senyum penuh ketulusan, Gubernur tetap hangat menyapa anak-anak, pemuda dan orang tua, memeluk mereka, bahkan meluangkan waktu untuk berfoto bersama di awal datang maupun saat acara ritual usai.
Suasana penuh kekeluargaan dan kental adat itu semakin terasa sakralnya saat tampilnya putra-putri Hena Hatutelu gabungan 3 Soa dalam paduan suara membawakan dua lagu yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal; persaudaraan dan kebersamaan.
Peresmian Baileo Negeri Hena Hatutelu ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Gubernur HL, diikuti penekanan sirine-pembukaan selubung papan nama Baileo.
Gubernur menyebut, Maluku negeri yang kaya pesona adat dan budaya, dibangun dengan kecerdasan kultural yang ditransformasikan dalam lembaga-lembaga dan pranata adat, memiliki kewenangan jelas serta menjadi model pemerintahan yang tertib, teratur dan berwibawa, penuh kharisma dan demokratis.
“Sebagai anak negeri, sepatutnya bertanggungjawab menghidupkan kembali lembaga dan pranata adat di daerah ini, dengan dilandasi niat dan komitmen kuat, agar bisa menjadi warisan budaya leluhur bagi anak cucu di masa mendatang,” tandas Lewerissa.
Dirinya juga menekankan, pemerintahan adat di Maluku memiliki eksistensi kuat, sehingga menjadi salah satu modal sosial dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat.
Karena itu, Gubernur mengajak untuk jadikan peresmian Baileo Negeri Hena Hatutelu sebagai momentum merevitalisasi kembali nilai-nilai kearifan lokal. Baik nilai persaudaraan dalam budaya pela gandong maupun nilai-nilai penting lainnya di Saka Mese Nusa maupun 10 Kabupaten/Kota lain.
“Sebagai Gubernur, saya menyambut dengan sukacita peresmian Baileo Negeri Hena Hatutelu ini sebagai tempat musyawarah adat,” tutur Lewerissa penuh syukur.

Tak sampai disitu, dirinya berharap Baileo ini dapat membina dan mempererat persaudaraan sejati sesama anak negeri. Anak Negeri harus belajar untuk saling mempercayai, memahami, menyayangi, membanggakan serta saling menghidupi.
“Sebagaimana falsafah hidup orang Maluku; potong di kuku, rasa di daging. Ale rasa beta rasa, sagu salempeng di patah dua,” ungkap Gubernur.
Tak hanya jadi wadah musyawarah adat, keberadaan Baileo ini diharapkan pula dapat menjadi simbol jati diri dan kemajuan peradaban masyarakat Negeri Piru, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal.
Juga menjadi bukti komitmen kuat untuk semakin memupuk rasa kebersamaan dan cinta damai bagi terciptanya kerukunan masyarakat di Maluku, terutama masyarakat Negeri Piru.
Acara adat nan sakral itu dikunci dengan tinjauan Baileo secara keseluruhan dan jamuan makan siang dari pemerintah dan masyarakat Negeri Piru. (NS)

