Gubernur-Sekjen Kemenhut Lepas Ekspor Perdana Damar-Pala ke India & China; Tanda Kebangkitan Ekonomi Maluku
IMG-20250924-WA0014

AMBON,Nunusaku.id,- Langkah nyata kembali ditorehkan Gubernur Hendrik Lewerissa (HL) bagi kemajuan tanah Maluku kedepan, terutama di sektor ekonomi dan perdagangan internasional.

Mempertegas posisi sebagai momentum kebangkitan ekonomi masyarakat, sekaligus meneguhkan kembali identitas Maluku sebagai lumbung rempah dunia.

Hal itu ditandai dengan pelepasan ekspor perdana hasil hutan bukan kayu berupa Kopal Damar dan rempah-rempah Pala ke dua negara besar, India dan China, Selasa (23/9).

Ekspor dilakukan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI, Mahfudz, M.P yang ditandai dengan penyiraman air kelapa pada peti kemas serta penyerahan dokumen ekspor oleh Gubernur HL kepada Kepala PSA di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon.

Dalam ekspor perdana ini, tercatat 30 ton damar dengan tujuan India senilai Rp 570 juta, serta 15 ton pala tujuan Cina via Surabaya senilai Rp 1,6 Miliar.

Produk ekspor tersebut berasal dari kelompok usaha Perhutanan Sosial di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku Tengah, dan Kota Ambon.

Rinciannya, ekspor Damar berasal dari LPH Desa Rambatu 9 ton, KTH Tawena Siwa 6 ton, LPH Desa Morella 6 ton, dan KTH Sorebang 9 ton. Sementara ekspor Pala dihimpun dari masyarakat hukum adat Negeri Hutumuri 5 ton, LPH Desa Morella 3 ton, dan kawasan hutan Pulau Ambon 7 ton.

Selain itu, Ekspor perdana ini juga menyerap tenaga kerja lokal, masing-masing 105 orang pada sektor damar dan 60 orang pada sektor pala.

Sekjen Kehutanan Mahfudz mewakili Menteri Kehutanan mengaku, ekspor perdana ini sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pembangunan harus berjalan beriringan dengan kelestarian hutan.

“Perhutanan sosial bukan hanya untuk pengentasan kemiskinan, tapi juga solusi adaptif menghadapi krisis iklim dan menjaga keberlanjutan lingkungan,” katanya.

Maluku sejak lama dikenal sebagai kepulauan rempah dunia. Dengan ekspor hari ini, menurut Mahfudz, Maluku tidak hanya mempertegas identitas sejarahnya, tetapi juga menatap masa depan sebagai pusat pengelolaan hutan lestari berbasis masyarakat.

Lebih lanjut diakuinya, secara nasional Kementerian Kehutanan telah menerbitkan lebih dari 8,3 juta hektar perhutanan sosial yang melibatkan 1,4 juta kepala keluarga.

“Di Maluku sendiri, terdapat 171 unit SK perhutanan sosial dengan luas 240 ribu hektar, melibatkan 33 ribu KK, dan membentuk 533 kelompok usaha. Nilai transaksi ekonomi program ini di Maluku pada tahun 2025 saja sudah mencapai Rp 3,85 Miliar,” ungkapnya.

Sementara, Gubernur HL menegaskan, capaian pada ekspor perdana Kopal Damar dan Pala ini merupakan bukti nyata kerja keras masyarakat melalui skema perhutanan sosial.

“Pelepasan ekspor ini adalah pencapaian luar biasa, hasil dari sinergi kita semua. Maluku dengan 3,9 juta hektar hutan atau 84 persen daratan, memiliki potensi besar hasil hutan kayu maupun non-kayu untuk menopang perekonomian daerah,” ujarnya.

Dijelaskan, Maluku memiliki luas kawasan hutan mencapai 3,9 juta hektar atau 84% dari luas daratan, sebagian besar merupakan tanah ulayat masyarakat adat.

Kekayaan hasil hutan kayu maupun non-kayu seperti damar, pala, cengkeh, gaharu, rotan, dan aren, selama ini menjadi pilar penting dalam menopang ekonomi dan peradaban Maluku.

“Jika dikelola dengan bijak melalui skema perhutanan sosial, hasil hutan ini akan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Gubernur.

Lewerissa tegaskan, komitmen Pemprov Maluku untuk menjadikan data dan legalitas sebagai dasar setiap langkah pembangunan, demi terwujudnya “Transformasi Maluku Maju, Adil, dan Sejahtera menuju Indonesia Emas 2045.”

Ekspor perdana Damar dan Pala ini bukan sekadar transaksi dagang, tetapi juga simbol kebangkitan ekonomi Maluku.

Produk-produk berbasis masyarakat ini membuktikan bahwa perhutanan sosial bukan sekadar konsep, melainkan gerakan nyata yang mampu menciptakan nilai ekonomi, sosial, dan ekologi sekaligus.

Dengan tujuan Ekspor ke India dan China, jadi momentum titik awal bagi Maluku untuk semakin kuat berdiri di panggung perdagangan internasional, sekaligus menjaga hutan tetap hijau demi generasi yang akan datang. (NS)

Views: 73
Facebook
WhatsApp
Email