Suara Lantang Gubernur Maluku Gugah Kesadaran Kolektif; Rendahnya Pendapatan Negara Hambat Kesejahteraan Daerah
IMG-20250916-WA0152

JAKARTA,Nunusaku.id,- Suara lantang Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, kembali memecah suasana hari kedua Forum Economic Leadership for Regional Government Leaders (REL) Angkatan IX tahun 2025 di Gedung BI, Selasa (16/9).

Tak hanya sekadar laporan biasa yang diserukan, melainkan pertanyaan mendasar yang menohok jantung perbincangan ekonomi nasional.

Disaksikan peserta forum para pemimpin daerah, ekonom, hingga pejabat pusat, dengan tegas Gubernur menatap narasumber sambil mengangkat persoalan yang jarang disentuh. Apakah benar pertumbuhan ekonomi yang tinggi benar-benar hadirkan kemakmuran bagi rakyat ?.

Dari rata-rata statistik yang disampaikan, sebagai Gubernur akui agak senang, karena pertumbuhan ekonomi Maluku-Papua cukup tinggi. Tetapi, sekali lagi, data statistik ini bukan kabar gembira baginya.

“Secara substansi, kami tidak melihat korelasi yang signifikan antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemakmuran daerah,” ungkapnya tegas.

Ia menyebut pertumbuhan itu bagaikan fatamorgana indah dari jauh, tetapi hampa ketika didekati. “Kami berasumsi jangan-jangan pertumbuhan ekonomi ini pertumbuhan yang tidak inklusif. Tumbuh tinggi karena adanya investasi besar, seperti tambang di Maluku Utara, tetapi yang menikmati paling besar hanyalah investor dan pemilik modal. Sementara masyarakat lokal hanya mendapat sisanya yang amat kecil,” duganya.

Namun, kritik Gubernur tidak berhenti di situ. Ia beralih pada isu yang lebih fundamental, rendahnya tax ratio Indonesia.

“Agak miris juga kalau tax ratio Indonesia hanya 10 sekian persen. Kalau kita bandingkan dengan negara tetangga, Kamboja misalnya, yang sering dianggap lebih rendah dari Indonesia, mereka justru jauh lebih tinggi, capai 24 sampai 25 persen,” ujarnya sembari menggeleng.

Pertanyaan itu ia lontarkan bukan sekadar untuk mengkritik, melainkan menggugah kesadaran kolektif. Baginya, rendahnya pendapatan negara akan selalu menjadi penghambat kesejahteraan daerah.

“Negara yang pendapatannya meningkat pasti berimbas ke daerah. Karena itu, apa faktor paling mendasar sehingga tax ratio kita begitu rendah? Ini penting untuk dijawab,” desaknya.

Di hadapan forum, ia juga menegaskan peluang yang seharusnya dimanfaatkan. “Kita sudah berada di era digitalisasi, yang memungkinkan tax ratio itu bisa ditingkatkan signifikan, lebih baik lagi. Jangan sampai peluang ini terbuang sia-sia.” seloroh Gubernur.

Suasana forum mendadak berubah hening. Kalimat Gubernur HL meninggalkan gema panjang. Ucapan-ucapan itu seakan menyuarakan kegelisahan daerah-daerah di luar Jawa, yang sering merasa terpinggirkan oleh narasi pertumbuhan nasional yang tak selalu sejalan dengan realitas di lapangan.

Baginya, angka-angka makro bukanlah akhir dari cerita. Ia menuntut jawaban, kapan pertumbuhan ekonomi benar-benar menjadi milik rakyat, bukan sekadar catatan statistik yang indah namun menyesatkan. (NS)

Views: 21
Facebook
WhatsApp
Email