
AMBON,Nunusaku.id,- Ratusan jiwa warga Desa Hunuth Kecamatan Teluk Ambon Kota Ambon harus mengungsi ke desa/negeri terdekat lantaran rumahnya terbakar dan rusak akibat konflik yang terjadi, Selasa (19/8) kemarin.
Mereka tersebar di Kantor Desa Poka 99 jiwa (32 KK), gedung serbaguna Nania 67 KK (275 jiwa), Negeri Lama (85 jiwa) 20 KK, Desa Latta (10 KK) 50 jiwa dan Lateri 4 KK (4 orang). Totalnya 131 KK (498 jiwa).
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa (HL) yang sejak awal menyerukan pesan perdamaian, dan mendorong aparat keamanan menangkap pelaku penikaman maupun pelaku tindak pidana pembakaran hari ini, Rabu (20/8) turun langsung melihat dan bertatap muka dengan warga yang mengungsi.
Selain tatap muka, Gubernur HL yang didampingi Wakil Gubernur (Wagub) Abdullah Vanath juga berdialog dengan para pengungsi. Lewerissa mengaku ikut berempati bersama warga atas kejadian yang terjadi.
“Pemerintah Provinsi Maluku terutama pa Gubernur merasa prihatin dan empati atas apa yang terjadi dan khusus kepada warga yang sementara mengungsi,” tandas Gubernur melalui juru bicara Pemprov Maluku, Kasrul Selang.
Menurutnya, keberadaan Gubernur dan sebelumnya Walikota Ambon kemarin ditengah masyarakat Hunuth yang ada di pengungsian merupakan bentuk nyata kehadiran negara dan pemerintah kepada rakyatnya.
Bahwa pemerintah tidak menutup mata atas kondisi tersebut, sehingga empati dan kepedulian wajib ditunjukkan secara nyata.
“Pemerintah hadir ditengah-tengah masyarakat. Apresiasi kepada pemerintah kota Ambon, aparat keamanan dan pihak-pihak lain yang kemarin turut membantu memulihkan kondisi sehingga sudah kondusif,” jelasnya.
Karena itu, selama masa tanggap darurat 14 hari, Gubernur Maluku telah memastikan, seluruh kebutuhan pengungsi akan tertangani atau disiapkan secara baik dan layak oleh pemerintah baik kota maupun provinsi saling support, bekerjasama.
“Seperti kebutuhan permakanan siap saji, kebutuhan bayi, Lansia, selimut, kasur dan lainnya serta MCK. Sembari koodinasi dilakukan untuk menangani fisik rumah yang terbakar atau rusak,” jelasnya.
Tentu juga memulihkan rasa aman dan trauma masyarakat pengungsi juga penting untuk dilakukan pemerintah. Sehingga Gubernur HL telah memerintahkan dinas kesehatan (Dinkes) agar mengirim tim trauma healing.
“Tim trauma healing dari Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Maluku sudah di lokasi-lokasi pengungsian seluruhnya untuk melakukan semaksimal mungkin pemulihan trauma masyarakat pengungsi,” ungkap Kasrul.
Lebih lanjut Gubernur berharap, keadaan ini segera berlalu. Masyarakat juga bersabar karena pemerintah tidak menutup mata terhadap apa yang terjadi.
Demikian pula aparat keamanan khususnya kepolisian sedang melakukan penyelidikan untuk mengungkap para pelaku.
“Kepada seluruh instansi baik pemerintah provinsi maupun kota serta instansi vertikal agar hadir 24 jam untuk meringankan beban saudara-saudara kita di pengungsian. Sambil komunikasi dan koordinasi intensif bersama Forkopimda dan para pihak memastikan kejadian serupa tidak terulang. Memastikan Maluku dalam aman dan damai yang permanen,” harap Gubernur.
Usai dari pengungsian, Gubernur dan Wagub sempatkan melihat kondisi balai pertemuan d kantor desa Hunuth serta beberapa unit rumah yang terbakar.
Suara hati masyarakat Hunuth yang ada di TKP juga ditautkan kepada kedua pemimpin mereka. Berharap ada upaya permanen dilakukan, mendirikan pos penjagaan serta para pelaku pembakaran rumah-rumah warga yang tidak tersangkut masalah bisa ditangkap. (NS)





