
AMBON,Nunusaku.id,- Provinsi Maluku mendapat jatah tiga (3) proyek strategis nasional (PSN) dalam kurun waktu tahun 2025-2029 oleh pemerintah pusat melalui kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
Tiga PSN itu ialah pengembangan bendungan Wae Apu di Kabupaten Buru (lanjutan), pengembangan pelabuhan Ambon (Maluku) terpadu atau Maluku Integrated Port dan pengembangan lapangan abadi wilayah blok Masela (lanjutan).
Keputusan ini tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 12 tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.
Dalam Perpres tersebut, 77 PSN terdiri dari 48 proyek lanjutan (carry over) dari pemerintahan sebelumnya dan 29 PSN baru. Tiga PSN diantaranya masuk ke Maluku. PSN hilirisasi sagu sendiriĀ “tergeser” ke provinsi lain.
Namun terkini, Gubernur Hendrik Lewerissa (HL) berkomitmen untuk mendorong hilirisasi sagu di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT)-Provinsi Maluku masuk proyek strategis nasional di Indonesia.
“Salah satu PSN adalah hilirisasi sagu. Sayangnya, PSN hilirisasi sagu nomor 37 itu tidak masuk di Maluku,” jelasnya saat Musrenbang RPJMD Provinsi Maluku tahun 2025-2029 di Ambon, Kamis (24/7/25).
Penjelasan Gubernur itu saat Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Kementerian PPN/Bappenas, Prof Mehdrilzam saat menjadi narasumber Musrenbang.
Padahal lanjut Lewerissa, hutan sagu terbanyak di dunia itu ada di Indonesia. Di Maluku sendiri ada 36 ribu hektar hutan sagu, 35 ribu hektar diantaranya berlokasi di Kabupaten SBT.
“Yang lain itu sudah berkurang karena hutan-hutan sagu telah dikonversi menjadi lahan transmigrasi, lahan sawit, lahan sawah dan sebagainya,” bebernya.
Atas fakta tersebut, sebagai pemimpin di Maluku, Gubernur HL menegaskan komitmennya untuk tidak lagi menerima transmigrasi nasional masuk ke Maluku.
“Sebagai Gubernur, saya sudah menyatakan sikap tegas untuk tidak lagi menerima transmigrasi nasional ke Maluku. Cukup. Kita menggalakkan transmigrasi lokal,” tegas Ketua DPD Gerindra Maluku itu.
“Nasional cukup (transmigrasi-red). Kita telah menjadi tuan rumah yang baik selama 60 tahun. Sekarang waktunya kita mendorong transmigrasi lokal,” sambung Lewerissa disambut tepuk tangan apresiasi Bupati/Walikota dan Kepala Bappeda se-Maluku serta peserta Musrenbang lainnya.
Sangat penting mendorong transmigrasi lokal Maluku karena menurut HL, supaya jangan terjadi lagi konversi hutan sagu menjadi hutan yang lainnya.
“35 ribu syukur Alhamdulillah, Puji Tuhan hutan sagu kita ada di SBT. Dan Pemerintah Kabupaten SBT telah membuat satu desain proposal yang akan melakukan hilirisasi sagu,” ungkap Gubernur.
Bahkan ketika kunjungan kerja di Salagor Kota Kabupaten SBT, Senin (21/7) lalu dalam rangka peluncuran 80 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih oleh Presiden Prabowo secara nasional, dirinya telah melihat langsung lokasi hilirisasi sagu tersebut.
“Saya sudah lihat lokasinya. Saya sudah datang, kemarin dulu disana. Karena itu sebagai Gubernur saya mau mendukung rencana baik tersebut untuk mendapat perhatian dari pemerintah pusat,” tukas mantan anggota DPR-RI itu.
Karena produsen sagu di tanah air, tambah HL, terbanyak ada di Riau, kedua di Papua Tengah dan ketiga Provinsi Maluku, keempat Papua dan kelima Aceh. Padahal faktanya jumlah kawasan hutan sagu lebih banyak di Maluku dibandingkan Riau.
“Riau memang sudah kenal industri. Sudah ada hilirisasi sagu di Riau. Saya punya imajinasi dalam waktu dekat, dengan dukungan perencanaan yang baik dari pemerintah kabupaten SBT, saya berharap hilirisasi sagu itu terjadi di Maluku,” ujarnya.
“Saya mohon dukungan pemerintah pusat untuk mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan,” pungkas Gubernur HL. (NS)





