Perdana, Upulatu Maluku Hendrik Lewerissa Pimpin Peringatan Hari Pattimura ke-208
InShot_20250515_171926322

AMBON,Nunusaku.id,- Untuk pertama kalinya, Gubernur yang juga Upulatu Maluku, Hendrik Lewerissa menjadi inspektur upacara (Irup) peringatan hari perjuangan Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura ke-208 tahun di Lapangan Merdeka Saparua Kecamatan Pulau Saparua Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Kamis (15/5/25).

Sebelum memimpin upacara, Upulatu Maluku yang mengenakan pakaian adat lebih dulu meletakkan karangan bunga bersama Bupati Malteng Zulkarnain Awat Amir dan perwakilan keluarga Kapitan Pattimura Thomas Matulessy di bawah monumen Kapitan Pattimura.

Kemudian menerima obor Pattimura dari Bupati yang diarak-arakan oleh masyarakat adat Saparua dengan Cakalele dari Gunung Saniri sejak kemarin, selanjutnya menyulutkan obor tersebut di monumen obor, disaksikan ribuan pasang mata termasuk wisatawan mancanegara.

Meski dibawah penatnya terik matahari, namun upacara peringatan Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura ke-208 tahun, dengan Kapitan Upacara, Kompol Yani Parinussa ini dapat berjalan khusyuk hingga selesai dengan aman dan lancar.

Di kesempatan itu, Upulatu Maluku mengaku, ketika menginjakkan kaki di tanah Saparua ini, aura kepahlawanan dapat dirasakan dalam semangat Lawamena Haulala yang dulu dikobarkan Kapitan Pattimura dan kawan-kawan.

“Api perjuangan yang dimulai dari gunung Saniri menjadi lambang membaranya semangat perjuangan untuk menyatukan rakyat Maluku khususnya yang ada di Kepulauan Lease,” tandas Lewerissa.

Menurut Upulatu, sosok Kapitan Pattimura adalah lambang keberanian, pengorbanan dan cinta tanah air. Dia memimpin perjuangan pada 15 Mei 1817 bukan karena ingin dikenang, tetapi karena tidak rela rakyatnya ditindas dan tanah ini diinjak-injak oleh penjajah.

Semangat itulah yang menginspirasi penetapan tema peringatan Hari Pattimura tahun ini yaitu “Lanjutkan Perjuangan Pattimura Par Maluku Pung Bae”. Tema ini bukan sekedar rangkaian kata-kata, tapi panggilan anak negeri untuk mengimplementasikan nilai-nilai perjuangan Pattimura dalam konteks Maluku kekinian.

“Perjuangan hari ini adalah bagaimana kita mentransformasikan Maluku menuju Maluku yang maju, adil dan sejahtera menuju Indonesia Emas 2045,” tandas Upulatu.

Lebih lanjut menurut Lewerissa, semangat Lawamena Haulala mengajarkan bahwa untuk mencapai “Maluku Pung Bae”, harus utamakan bekerja bersama. Bahu membahu tanpa melihat perbedaan.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kami butuh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, dunia usaha dengan peran dan tanggungjawab masing-masing yang sama penting untuk membangun Maluku,” tegasnya.

Ditegaskan, perjuangan dan pesan fenomenal Pattimura, menunju kepada generasi masa kini dan generasi Maluku masa depan tentang bangkitnya Pattimura-Pattimura muda yang akan meneruskan dan mewujudkan cita-cita perjuangan mereka.

“Pattimura zaman sekarang tidak lagi mengangkat parang dan Salawaku, tapi menggunakan kecerdasan, inovasi, kebijakan, teknologi, kerja keras, moralitas dan solidaritas untuk melawan kemiskinan, ketimpangan pembangunan, keterbelakangan pendidikan, kerapuhan nilai sosial dan budaya, ancaman terhadap toleransi dan persaudaraan,” terang Upulatu. (NS)

 

Views: 82
Facebook
WhatsApp
Email