
AMBON,Nunusaku.id,- Gubernur dan Wakil Gubernur (Wagub) Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath dikukuhkan sebagai Upulatu dan Pati Maluku.
Pengukuhan dilakukan Ketua Majelis Latupati Maluku sehari menjelang peringatan ke-208 perjuangan Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura di pelataran kantor Gubernur, Rabu (14/05/25).
Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Ketua TP PKK Maluku, Maya Baby Lewerissa dan staf ahli PKK Maluku, Rohani Vanath serta pimpinan OPD Pemprov Maluku turut hadir menyaksikan momen sakral itu.
Upalatu Maluku, Hendrik Lewerissa katakan, pengukuhan yang dilakukan merupakan amanah adat, sebuah kehormatan dan kepercayaan besar dari masyarakat adat, melalui Majelis Latupati Maluku.
Gelar ini disematkan juga bukan sekedar simbol kekuasaan, melainkan representasi dari kepemimpinan yang mengayomi, melindungi dan mempersatukan seluruh masyarakat Maluku.
“Gelar ini mengingatkan kami pada keluhuran nilai adat istiadat dan budaya dari orang tatua yang mewariskan secara turun temurun dalam kehidupan masyarakat adat di 11 kabupaten/kota se-Maluku,” ujarnya.
Ia menyadari, di pundaknya ada harapan besar untuk menjaga keharmonisan kerukunan antara orang basudara, melestarikan nilai budaya adat Maluku, serta mewariskannya secara berkelanjutan bagi anak cucu.
Begitupula dengan gelar Pati Maluku yang diemban Wakil Gubernur. Gelar ini melambangkan ketegasan, loyalitas dan pengabdian yang tulus dalam mendampingi dan mendukung kepemimpinan Upulatu.
Sinergi dan kolaborasi yang kuat antara Upulatu dan Pati juga akunya, merupakan kunci sukses untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat yang baik dan efektif di Maluku.
“Pengukuhan ini bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, justru merupakan awal dari babak baru pengabdian kami di bumi raja-raja,” ucapnya.
Lewerissa berjanji dan berikhtiar dengan segenap kemampuan dan ketulusan hati akan menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Mendengarkan aspirasi masyarakat dan bekerja keras untuk mewujudkan Maluku yang maju, adil dan sejahtera.
“Upulatu dan Pati bukan sebatas simbol, melainkan panggilan jiwa, untuk melayani dengan cinta, merangkul dengan hikmat, dan membangun dengan nilai,” pungkasnya. (NS)





