
AMBON,Nunusaku.id,- SMK Negeri 6 Ambon tahun pelajaran 2023/2024 telah menetapkan standar kelulusan minimal pada angka 79, naik satu digit dibanding tahun lalu (2022/2023) pada angka 78.
Dimana pada tahun pelajaran 2023/2024 jumlah peserta ujian sebanyak 207 siswa kelas XII sebagai peserta ujian, dan dinyatakan lulus dan berkompeten sebanyak 206 siswa atau 99,25%.
SMK Negeri 6 Ambon yang berlokasi di Keluarahan Lateri, Kota Ambon yang dinakodai Drs. Eduard Luturmas, M.Si menjelaskan, dengan standar kelulusan ini, paling banyak siswa memperoleh nilai ujian diatas angka 80. Bahkan sejumlah siswa ada yang mencapai angka 90-an, 95-97.
Nilai rata-rata ini diperoleh dari nilai raport semester 1-6 ditambah nilai ujian akhir teori, dan nilai uji kompetensi keahlian (UKK). Dan siswa wajib menyelesaikan proses pembelajaran selama 6 semester dan dinyatakan berkompeten.
“Tentu, kita memahami nilai bukan sekedar angka-angka yang mati dan kaku. Nilai juga mesti kita pahami dalam artian ‘makna dan atau nilai itu sendiri”. Nilai dalam artian angka/bilangan nominal akan menjadi sesuatu yang berguna, bila memiliki ‘jiwa yang hidup dan bermakna’. Nilai itu harus dipertanggungjawabkan setiap orang kepada publik di masa depan. Karena itu, nilai-nilai yang dicapai setiap siswa harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari”, jelas Luturmas kepada media ini di ruang kerjanya, Selasa (7/5).
Dengan kata lain, nilai yang diperoleh siswa sekaligus memberi wajah, potret, gambaran dunia pendidikan, termasuk di SMK Negeri 6 Ambon, bahkan wajah perjuangan anak-anak.
“Sebab kalau soal kelulusan bisa saja nilai standar 65 sudah bisa lulus, atau penuhi standar ketuntasan. Tapi nilai 79 di SMK Negeri 6 seyogyanya masih relatif rendah kalau disandingkan sekedar nilai dalam arti “angka”,” urainya.
Karena itu, tidak boleh merasa puas dengan nilai angka yang minimal atau maksimal yang diperoleh setiap siswa, melainkan menjadi instrumen evaluasi dan refleksi mendalam untuk semua agar terus memacu diri semakin berkompeten lagi dalam artian mutu atau kualitasnya.
“Kedepan kita harus standar sampai minimal 85. Mengapa? Karena SMK Negeri 6 adalah salah satu SMK Pusat Keunggulan secara nasional, bahkan satu-satunya SMK di Maluku yang berhasil lolos seleksi dalam Program ‘Skema Pemadanan Dukungan Industri’ oleh Direktorat SMK, Kemdikbudristek sejak tahun 2022,” ujar Luturmas.
Disatu pihak hal ini kata Luturmas, menjadi tantangan tetapi juga peluang bagi SMK Negeri 6 Ambon dalam meningkatkan kompetensi di bidang vokasional.
Karena itu diharapkan ada kolaborasi dan sinergitas sejumlah komponen dunia pendidikan dalam mengemas sebuah sistem pendidikan, termasuk di SMK Negeri 6 Ambon dengan peningkatan manajemen berbasis industri dari waktu ke waktu sehingga lulusannya semakin berkualitas.
“Dalam kaitan itu, dengan jumlah peserta ujian nasional 207 siswa di tahun pelajaran 2023/2024 ini, kami bersyukur kepada Tuhan sebab persentase lulusan SMK Negeri 6 Ambon bisa mencapai persentasi cukup maksimal yakni 99,25 persen atau 206 dinyatakan sudah berkompeten. Memang ada 0,75 persen alias 1 orang dinyatakan ‘belum berkompeten’, karena ada beberapa tahapan proses yang belum diikuti atas keputusan-etis yang diambil siswa yang bersangkutan. Tetapi pihak sekolah tetap membuka ruang kesempatan untuk memperbaiki proses pembelajarannya,” ujar Luturmas.
Lebih lanjut dijelaskan, SMK saat ini mengenal istilah sudah dan belum berkompeten, berbeda dengan SMA yang kategori lulus ujian akhir. Karena tahapan untuk mengikuti ujian akhir dan dinyatakan kompeten apabila memenuhi syarat.
“Iya benar (satu orang belum kompeten-red). Pengumuman memang secara online lewat link kelulusan. Direncakan acara pelepasan terhadap mereka atau alumni di Minggu depan,” ulas Luturmas.
Menelisik syarat kelulusan di SMK itu, tentu diharapkan topangan berbagai pihak baik insan pers, masyarakat, dunia pendidikan, dunia industri, orang tua, siswa sendiri dan para guru, sebagai suatu kesatuan sistem yang diharapkan bertanggungjawab terhadap kompetensi yang dimiliki anak.
“Kalau di SMK, dikawal sampai mereka memiliki kebekerjaan. Jadi kita kawal sampai mereka bekerja dimana, dalam sistem Kemendikbud Ristek-Dikti yang namanya Treacher Study, penelusuran tamatan, yang kemudian mereka bisa bermanfaat bagi pembangunan bangsa terutama di daerah kita,” tukasnya.
Karena itu tahun lalu, tambah Luturmas, pihaknya telah lakukan Job Fair, dengan mengundang sejumlah institusi mitra dan industri. Hasilnya, banyak peluang beasiswa studi lanjut, kebekerjaan dan sampai pada peluang ada beberapa perguruan tinggi yang telah bersedia menerima lulusan Layanan kesehatan di SMK Negeri 6 Ambon di Fakultas Kedokteran, seperti Universitas Kristen Maranatha Bandung yang sudah dilakukan MoU/PKS-nya.
Kepada ke-206 alumni SMK Negeri 6 Ambon yang sudah kompeten, Luturmas berharap, tetap berpegang pada orientasi SMK yang menekankan pada tiga aspek yang sering disebut “mobil B-M-W”.
B; ekerja. Mereka (alumni) siap bekerja baik itu di instansi pemerintah maupun swasta, setelah lewati berbagai kegiatan pembelajaran diantaranya teori dan praktek.
M; elanjutkan studi di perguruan tinggi luar atau dalam negeri. Artinya, jika tidak bekerja bisa lanjut studi, atau studi sambil bekerja bahkan sebaliknya.
Ketiga; Wiraswasta. Alumni diharapkan mandiri. Jika telah dinyatakan berkompeten, artinya harus berani, punya motivasi kuat, percaya diri dan membangun interaksi dengan personal maupun kolektif bahkan institusi yang diharapkan bisa membantu mengembangkan kompetensi mereka.
“Ini juga tergantung dari sejauh mana, baik industri, perguruan tinggi serta masyarakat meningkatkan SDM mereka, anak-anak kita ini,” pungkas kepala sekolah yang Masa Persiapan Pensiun terhitung Juli tahun depan itu penuh optimis. (NS)

