
AMBON,NUNUSAKU.ID,- Perjalanan Gereja Protestan Maluku (GPM) selama 91 tahun telah menjadi bagian penting dalam membentuk karakter masyarakat Maluku yang tangguh, beradab dan beriman.
Karena itu, seluruh warga GPM diajak untuk memaknai tema peringatan HUT ke-91 GPM, “Bersyukurlah dan Tekunlah Berjalan dengan Takut akan Allah,” bukan sekadar sebagai tema perayaan, tetapi sebagai pesan iman yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Bersyukur justru menjadi kemampuan untuk menyadari Tuhan hadir dalam seluruh kehidupan kita. Iman tidak hanya ditunjukkan ketika kita menghadapi kesulitan, tetapi juga ketika kita memperoleh keberhasilan. Kita harus tetap mengingat bahwa semua itu adalah anugerah Tuhan,” ujar Lewerissa dalam resepsi HUT ke-91 GPM di Baileo Oikumene Ambon, Minggu (6/9/26).
Menurut Gubernur, rasa syukur tidak boleh membuat manusia berhenti bekerja. Sebaliknya, rasa syukur harus menjadi kekuatan untuk terus melangkah, bekerja dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat.
Ia mengatakan, dunia saat ini sedang berubah dengan sangat cepat. Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, serta media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan menjalani kehidupan.
Namun, ditengah kemajuan tersebut, manusia tetap menghadapi kebutuhan sosial dan spiritual yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
“Gereja harus menjadi ruang yang menyapa mereka yang kehilangan harapan, menguatkan keluarga yang sedang menghadapi pergumulan, membangun generasi muda, dan memberikan pelayanan yang membawa perubahan,” katanya.
Lewerissa menegaskan, pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Gedung, jalan dan berbagai infrastruktur yang dibangun pemerintah akan kehilangan makna apabila tidak dibarengi dengan pembangunan manusia yang memiliki kompas moral.
“Manusia tidak hanya membutuhkan infrastruktur dan pembangunan fisik. Manusia membutuhkan jiwa yang utuh dan berkualitas. Di sinilah gereja memiliki peran yang sangat penting,” tegasnya.
Menurutnya, perjuangan meningkatkan kualitas pendidikan, mengurangi penderitaan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan bagian dari misi pembangunan sekaligus panggilan kemanusiaan. Demikian pula dengan upaya merawat perdamaian dan persaudaraan.
“Jika hari ini kita bertekad merawat perdamaian dan persaudaraan, itu adalah kiprah spiritual sekaligus tanggung jawab kemanusiaan kita bersama,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan momentum HUT ke-91 GPM sebagai fondasi untuk melawan korupsi, merawat perdamaian antarumat beragama, membangun ekonomi yang bermartabat dan mewujudkan keadilan sosial.
Sinergi Pemerintah dan Gereja
Gubernur juga menyampaikan apresiasi terhadap dukungan para tokoh agama, pimpinan GPM, para pelayan Gereja dan seluruh warga jemaat terhadap berbagai agenda pembangunan di Maluku.
Ia menegaskan, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Berbagai program pembangunan, termasuk peningkatan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, pembangunan rumah, pelayanan kesehatan dan pembangunan rumah sakit pemerintah di sejumlah kabupaten, membutuhkan kolaborasi seluruh komponen masyarakat.
“Ini bukan sekadar agenda pemerintah. Ini adalah agenda kita bersama. Karena itu, mari kita satukan kekuatan pemerintah, doa gereja dan kekuatan rakyat,” ajaknya.
Menurut Lewerissa, Gereja memiliki kekuatan moral dan sosial sangat besar untuk menjadi bagian dari pembangunan Maluku. Karena itu, sinergi antara pemerintah, Gereja, masyarakat, dunia usaha dan berbagai elemen lainnya harus terus diperkuat agar pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga mengajak GPM untuk terus memperluas pelayanan kemanusiaan, pemberdayaan masyarakat, pendidikan dan kesehatan, sekaligus memperkuat keluarga sebagai basis pembentukan karakter dan iman.

Menuju Satu Abad GPM
Lewerissa mengatakan, usia 91 tahun merupakan bukti panjang perjalanan GPM dalam penyertaan Tuhan. Namun, perjalanan tersebut tidak boleh berhenti pada pencapaian masa lalu.
“91 tahun adalah bukti perjalanan Tuhan bagi kita. Namun masa depan tidak hanya dibuka oleh mereka yang mengenang masa lalu. Masa depan adalah milik mereka yang berani melangkah dengan syukur dan tekun mengerjakannya,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh warga GPM untuk mulai mempersiapkan perjalanan menuju satu abad GPM dengan semangat pelayanan yang semakin relevan dengan perkembangan zaman.
“Marilah kita berjalan menuju satu abad GPM. Tekunlah melayani di sekolah-sekolah, pasar-pasar, rumah sakit, kantor-kantor, toko-toko dan di dalam rumah tangga. Di mana pun kita berada, jadikan kehidupan kita sebagai kesaksian iman dan pelayanan,” ujarnya.
Ia berharap, memasuki perjalanan menuju satu abad, GPM tetap menjadi gereja yang hadir di tengah masyarakat, memperkuat persaudaraan, menjaga perdamaian, memberdayakan umat dan bersama pemerintah membangun Maluku yang semakin adil, sejahtera dan bermartabat.
“Kiranya Tuhan tetap menjadi penuntun, membuka jalan ke masa depan dan memberikan kekuatan kepada kita untuk terus bekerja bersama membangun negeri ini,” pungkas Lewerissa.
Bantuan Diakonal untuk 194 Tuagama
Resepsi HUT GPM dilakukan sederhana namun bernilai dengan menekankan pada peran “Gereja Rumah Tangga” atau keluarga sebagai basis utama pembinaan ber-Gereja. Lantunan puji-pujian dan doa syukur HUT oleh Pendeta (em) I. W.J Hendriks juga menjadi bagian menegaskan kekhusyukan proses syukur.
Dalam perayaan HUT ke-91 GPM itu pula, komitmen pelayanan kepada umat juga diwujudkan melalui penyerahan bantuan Diakonal kepada 194 Tuagama yang tersebar di 34 Klasis di wilayah Maluku dan Maluku Utara.
Bantuan tersebut secara simbolis diterima 10 Tuagama dari 5 Klasis yang berada di wilayah Pulau Ambon dan Banda. Bantuan diserahkan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Ketua MPH Sinode GPM Pendeta S.I. Sapulette, dan Ketua PHBG Sinode GPM Benhur Watubun.
Pemberian bantuan ini menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian Gereja bersama pemerintah serta perbankan terhadap para pelayan yang selama ini mengambil bagian penting dalam kehidupan pelayanan jemaat.
Bantuan Diakonal tersebut sekaligus menegaskan bahwa semangat HUT ke-91 GPM tidak hanya dirayakan melalui kegiatan seremonial, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata untuk memperkuat pelayanan, memperhatikan para pelayan Gereja, serta menghadirkan kasih dan kepedulian di tengah kehidupan umat.
Momentum ini juga memperlihatkan pentingnya sinergi pemerintah dan Gereja dalam membangun masyarakat Maluku yang tidak hanya maju secara fisik dan ekonomi, tetapi juga kuat secara iman, sosial dan kemanusiaan. (NS)








