
AMBON,NUNUSAKU.ID,— Ditengah ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Karang Taruna Maluku turun langsung ke jalan. Sebanyak 5.000 masker dibagikan kepada masyarakat di lima titik strategis Kota Ambon, Sabtu (17/10/26), sebagai langkah perlindungan awal bagi warga yang tetap harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang perlu diwaspadai.
Aksi kemanusiaan yang digerakkan Pengurus Provinsi Karang Taruna (PPKT) Maluku melalui Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Karhutla itu dipimpin Ketua Satgas, Prof. Dr. Sintya Latumahina, bersama anggota Satgas dan Karang Taruna Kota Ambon.
Mereka menyapa langsung pengendara sepeda motor, pengemudi mobil, sopir angkutan kota, tukang ojek, pengayuh becak, juru parkir, pedagang hingga pejalan kaki. Ditengah kesibukan jalanan kota, pembagian masker menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang berisiko terpapar asap saat menjalankan aktivitas sehari-hari.
Lima lokasi menjadi pusat pembagian masker, yakni perempatan Polsek Sirimau, kawasan Gong Perdamaian Dunia, depan Kantor Wali Kota dan Pengadilan Negeri Ambon, Jalan A.Y. Patty, serta kawasan luar dan dalam Mall Ambon Plaza.
Pemilihan lokasi tersebut diarahkan untuk menjangkau warga dengan mobilitas tinggi, terutama mereka yang bekerja dan beraktivitas di ruang terbuka.
Namun, aksi ini tidak sekadar membagikan alat pelindung pernapasan. Karang Taruna Maluku juga membawa pesan bahwa kabut asap bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan ancaman terhadap kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian dan tindakan bersama.
Masker dan Edukasi untuk Masyarakat
Selain membagikan 5.000 masker, Satgas Pencegahan dan Penanganan Karhutla PPKT Maluku mendistribusikan 2.000 brosur edukasi yang memuat informasi mengenai bahaya asap kebakaran, langkah perlindungan kesehatan, pencegahan kebakaran lahan, serta pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Ketua Satgas Pencegahan dan Penanganan Karhutla PPKT Maluku, Prof. Dr. Sintya Latumahina, mengatakan pembagian masker dan edukasi tersebut dilaksanakan secara bersamaan agar masyarakat tidak hanya memperoleh bantuan, tetapi juga memahami cara menghadapi risiko kebakaran dan pencemaran udara.
“Melalui dua kegiatan yang berjalan serentak hari ini, kami berharap masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memperoleh pengetahuan praktis dalam menghadapi ancaman kebakaran dan pencemaran udara,” tandasnya.
Menurut Latumahina, pembagian masker merupakan wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial generasi muda Maluku melalui Karang Taruna untuk membantu masyarakat yang terdampak kabut asap akibat karhutla.
“Apa yang kita lakukan hari ini adalah upaya kita untuk sama-sama menjaga dan turut merasakan dampak dari kebakaran yang terjadi akhir-akhir ini,” ujarnya.
Latumahina yang Dosen Jurusan Kehutanan Universitas Pattimura sekaligus Guru Besar bidang Ilmu Perlindungan dan Kesehatan Ekosistem Hutan itu menegaskan, penanganan Karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran dan partisipasi masyarakat menjadi faktor penting untuk mencegah kebakaran terus berulang.
Salah satu hal yang harus dihindari adalah praktik pembakaran lahan secara sembarangan. Api yang awalnya kecil dapat meluas, sementara asapnya bisa menyebar ke kawasan permukiman dan pusat aktivitas masyarakat, bergantung pada kondisi angin dan cuaca.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran terbuka yang berpotensi memicu kebakaran. Warga juga diminta segera melaporkan titik api kepada pihak berwenang agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Perlindungan Kesehatan Tak Cukup dengan Masker
Ditengah ancaman kabut asap, masyarakat juga perlu mengambil langkah perlindungan secara mandiri. Penggunaan masker merupakan salah satu langkah awal, tetapi bukan satu-satunya cara untuk mengurangi risiko paparan asap kebakaran.
Warga perlu membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika asap meningkat, menghindari kawasan dengan paparan asap tebal, serta mengikuti informasi dan imbauan resmi dari instansi terkait mengenai kondisi udara dan penanganan karhutla.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan, perlu mendapat perhatian khusus. Warga yang mengalami sesak napas atau keluhan kesehatan setelah terpapar asap perlu segera mencari pertolongan medis.
Dengan demikian, pembagian masker dan penyebaran informasi kesehatan diharapkan dapat membantu masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi udara belum membaik.
Lebih jauh, pencegahan kebakaran tetap menjadi langkah mendasar. Sebab, perlindungan kesehatan akan sulit dilakukan secara optimal apabila sumber asap terus muncul akibat kebakaran yang tidak terkendali.
Karang Taruna Tegaskan Tanggungjawab Sosial
Terpisah, Ketua Pengurus Provinsi Karang Taruna (PPKT) Maluku, Alexander Waas, menegaskan, pembagian ribuan masker dan brosur edukasi merupakan bagian dari kepedulian organisasi terhadap masyarakat yang menghadapi ancaman kabut asap.
Melalui kegiatan tersebut, pihaknya berharap warga semakin memahami risiko paparan asap, menjaga kesehatan, serta berperan aktif mencegah kebakaran hutan dan lahan.
“Sebagai organisasi sosial yang menjadi mitra pemerintah, Karang Taruna memiliki tanggung jawab untuk mengambil langkah antisipatif dan menghadirkan kegiatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat,” jelas Waas.
Aksi ini sekaligus memperlihatkan bahwa penanganan dampak Karhutla membutuhkan kerja bersama. Pemerintah dan instansi terkait berperan dalam pencegahan serta penanganan kebakaran, sementara masyarakat dapat berkontribusi dengan menjaga lingkungan, tidak membakar lahan sembarangan, dan segera melaporkan kemunculan titik api.
Dari lima titik strategis di Kota Ambon, PPKT Maluku melalui Satgas Pencegahan dan Penanganan Karhutla menyampaikan pesan sederhana: melindungi warga dari dampak kabut asap harus berjalan seiring dengan upaya mencegah kebakaran sejak dini.
Sebab, 5.000 masker mungkin menjadi perlindungan awal bagi masyarakat yang beraktivitas di jalanan. Namun, upaya mencegah kebakaran agar asap tidak terus menyelimuti lingkungan merupakan langkah yang lebih mendasar untuk menjaga kesehatan dan keselamatan bersama.
Udara bersih bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, melainkan bagian penting dari kualitas hidup masyarakat yang harus dijaga bersama.
Aksi Berlanjut; 110 KK Terdampak Karhutla Disasar Bantuan Air Bersih
Rangkaian aksi kemanusiaan Satgas Pencegahan dan Penanganan Karhutla PPKT Maluku tidak berhenti pada pembagian 5.000 masker dan brosur edukasi. Selanjutnya, pada Selasa (20/10), Satgas merencanakan aksi penyaluran air bersih bagi 110 kepala keluarga (KK) di kawasan Kezia, Gunung Nona, dan sekitarnya yang terdampak karhutla.
Penyaluran air bersih tersebut akan dilanjutkan dengan edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta langkah-langkah perlindungan diri dari dampak kabut asap.
Kegiatan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan warga sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran.
Sebagai penutup rangkaian aksi sosial, Satgas Pencegahan dan Penanganan Karhutla PPKT Maluku juga merencanakan dialog interaktif di studio RRI Ambon pada Sabtu (24/10/26).
Dialog tersebut akan melibatkan Ketua Pengurus Provinsi Karang Taruna Maluku, Sekretariat PPKT Maluku, serta Ketua Satgas.
Forum ini akan menjadi ruang edukasi dan penyampaian pesan kepada masyarakat mengenai pentingnya pencegahan karhutla, penanganan dampaknya, serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, PPKT Maluku berupaya menghadirkan aksi yang tidak hanya berorientasi pada bantuan langsung, tetapi juga memperkuat edukasi dan partisipasi masyarakat.
Mulai dari pembagian masker, penyaluran air bersih bagi warga terdampak, hingga dialog melalui siaran radio, seluruh upaya diarahkan untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dan pencegahan karhutla di Maluku. (NS)






