39 Tahun Polnam: Dari Ruang Kelas, Menatap Karya yang Bisa Mengubah Kota
IMG-20261006-WA0004

AMBON,NUNUSAKU.ID,— Usia 39 tahun bukan sekadar angka bagi Politeknik Negeri Ambon (Polnam). Dibalik perjalanan hampir empat dekade itu, ada ribuan lulusan, berbagai inovasi, kerjasama dengan pemerintah, serta tanggungjawab yang terus melebar untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Kini, ketika memasuki usia ke-39, Polnam didorong untuk tidak hanya menjadi tempat mencetak tenaga terampil, tetapi juga menjadi rumah lahirnya gagasan dan teknologi yang mampu menyelesaikan persoalan nyata di Maluku.

Pesan itu mengemuka dalam Dies Natalis ke-39 Politeknik Negeri Ambon yang digelar di Kampus tersebut kawasan Wailela Kecamatan Teluk Ambon, Senin (5/10/26).

Mengusung tema “Politeknik Negeri Ambon Bersinergi, Berdampak, dan Berdaya Saing,” peringatan tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan Polnam sekaligus menatap tantangan yang jauh lebih besar.

Walikota Ambon Bodewin Wattimena memberikan apresiasi terhadap perjalanan dan kontribusi Polnam dalam pembangunan daerah.

Bagi Bodewin, 39 tahun adalah perjalanan panjang bagi sebuah institusi pendidikan tinggi. Karena itu, Dies Natalis tidak seharusnya hanya menjadi agenda seremonial, tetapi menjadi ruang untuk melakukan evaluasi sekaligus merancang masa depan.

“Peringatan Dies Natalis ini bukan sekadar memperingati usia 39 tahun, tetapi harus menjadi momentum untuk merefleksikan secara utuh perjalanan Polnam. Apa yang sudah ditempuh, apa yang sudah dibuat, dan tanggungjawab apa yang masih harus dilakukan kedepan,” ujar Bodewin.

Politeknik Negeri Ambon hadir pada 5 Oktober 1987. Kehadirannya menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan vokasi di Maluku.

Sebagai perguruan tinggi vokasi pertama di daerah ini, Polnam memiliki posisi strategis dalam menyiapkan tenaga terampil yang dibutuhkan dunia kerja.

Namun, menurut Bodewin, tantangan hari ini sudah berbeda, dunia kerja bergerak cepat. Teknologi berkembang hampir setiap saat. Digitalisasi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence, otomatisasi, perubahan iklim, hingga perubahan sosial dan ekonomi menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi.

Karena itu, lulusan Polnam tidak cukup hanya memiliki ijazah, Mereka harus memiliki keterampilan, kemampuan beradaptasi, kreativitas, inovasi dan daya saing agar mampu memasuki dunia kerja serta bertahan menghadapi perubahan zaman.

“Lulusan Polnam harus mampu segera mendapat pekerjaan, eksis di dunia kerja dan memiliki daya saing yang tinggi agar tidak tertinggal,” tegasnya.

Bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, keberadaan perguruan tinggi tidak boleh berhenti di balik pagar kampus.

Ilmu pengetahuan harus keluar dari ruang kelas. Penelitian harus menemukan bentuknya dalam teknologi. Dan pengabdian kepada masyarakat harus benar-benar dirasakan warga.

Salah satu persoalan yang kini menjadi ruang kolaborasi Pemkot Ambon bersama Polnam adalah pengelolaan sampah.

Masalah sampah mungkin terlihat sederhana. Namun ketika tidak ditangani sejak dari sumbernya, persoalan tersebut dapat berubah menjadi masalah lingkungan dan sosial yang jauh lebih besar.

“Karena itu, Pemkot Ambon mendorong Polnam untuk ikut menghadirkan solusi teknologi yang dapat digunakan langsung masyarakat,” tandasnya.

Bodewin mengungkapkan, Pemkot bersama Polnam dan salah satu perguruan tinggi di Ambon tengah mengupayakan pengembangan mesin pengolah sampah skala lingkungan.

Satu mesin diharapkan dapat digunakan untuk sekitar 20 rumah, sehingga sampah dapat dikelola sedekat mungkin dengan sumbernya.

Jika berhasil diwujudkan dan diterapkan, inovasi itu diharapkan bukan sekadar menjadi alat pengolah sampah. Lebih jauh, mesin itu dapat menjadi identitas karya Polnam.

Bukan Sekadar Mesin, Tetapi Legacy

Disinilah pesan Bodewin menjadi lebih jauh. Ia tidak ingin kerjasama tersebut berhenti sebagai proyek pemerintah dan perguruan tinggi. Ia berharap inovasi itu kelak menjadi karya yang melekat dengan nama Politeknik Negeri Ambon.

“Kalau ini bisa dilakukan, saya kira ini akan menjadi legacy Polnam yang pada waktunya bisa direplikasi oleh banyak pihak. Orang akan menyebutnya sebagai mesin Politeknik Negeri Ambon,” katanya.

Gagasan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi Polnam, Sebab, ukuran keberhasilan perguruan tinggi bukan hanya seberapa banyak mahasiswa yang diluluskan, tetapi juga seberapa besar ilmu dan teknologi yang dihasilkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Bagi Bodewin, akan menjadi kebanggaan tersendiri apabila suatu hari mesin tersebut digunakan di berbagai daerah dan masyarakat mengenalnya sebagai karya Politeknik Negeri Ambon.

Dari Ambon, sebuah inovasi lahir, Kemudian bergerak ke berbagai tempat, Dan nama Polnam ikut berjalan bersamanya.

Memasuki usia ke-39, Bodewin mengajak civitas akademika Polnam berpikir lebih jauh.

Bukan hanya tentang apa yang bisa dicapai tahun ini, tetapi apa yang akan dikenang ketika Polnam mencapai usia 100 tahun.

Setiap generasi, katanya, harus meninggalkan sesuatu yang dapat diteruskan generasi berikutnya.

“Pada usia ke-39 tahun ini, kita berharap Politeknik Negeri Ambon dapat menghasilkan sesuatu yang akan dikenang pada usia 100 tahun dan seterusnya,” ungkapnya.

Harapan tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa perjalanan Polnam tidak boleh berhenti pada pencapaian masa lalu, serta pengalaman 39 tahun harus menjadi modal untuk melahirkan inovasi baru.

Pemkot Ambon sendiri menempatkan Polnam sebagai salah satu mitra strategis pembangunan daerah.

Kolaborasi antara Pemkot Ambon dan Polnam telah dilakukan dalam berbagai bidang, termasuk kegiatan di Desa Tawiri, Rutong dan sejumlah wilayah lainnya.

Kedepan, kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya melibatkan Pemkot dan Polnam.

Perguruan tinggi lain seperti Universitas Pattimura, UKIM dan institusi pendidikan tinggi lainnya juga dinilai memiliki potensi besar untuk bergabung dalam menyelesaikan berbagai persoalan kota.

Bodewin mendorong lahirnya lebih banyak laboratorium kolaborasi, tempat pemerintah, akademisi dan masyarakat dapat duduk bersama mencari solusi.
Sebab, persoalan Kota Ambon tidak sedikit.

Mulai dari sampah, lingkungan hidup, kemacetan, banjir dan longsor, keterbatasan air bersih, kawasan kumuh, transformasi digital menuju Ambon Smart City, penguatan UMKM hingga peningkatan kompetensi dan kesempatan kerja bagi generasi muda.

Pemerintah kota membutuhkan peran perguruan tinggi untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dan kota ini, kata Bodewin.

39 Tahun, Saatnya Membuktikan Dampak, dan Pada akhirnya, Dies Natalis ke-39 Polnam bukan sekadar perayaan bertambahnya usia.

Momentum ini menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan lulusan.

Ada masyarakat yang membutuhkan solusi,
ada pemerintah yang membutuhkan inovasi,
ada dunia usaha yang membutuhkan tenaga terampil, dan ada generasi muda yang membutuhkan pendidikan yang relevan dengan masa depan.

Di titik itulah tema “Bersinergi, Berdampak, dan Berdaya Saing” menemukan maknanya. Sinergi harus melahirkan karya, Karya harus menghasilkan dampak, Dan dampak harus membuat Polnam semakin berdaya saing.

“Semoga usia 39 tahun menjadi awal dari perjalanan baru yang lebih berani, Bukan hanya menghasilkan lulusan, tetapi menghasilkan karya yang dikenang,” harap orang nomor satu di kota Ambon itu.

Bukan hanya berbicara tentang inovasi, tetapi menghadirkan inovasi yang digunakan.

Dan bukan hanya menjadi bagian dari pembangunan Kota Ambon, tetapi menjadi salah satu kekuatan yang ikut menentukan masa depan Maluku.

Dari kampus vokasi pertama di Maluku, Polnam kini ditantang meninggalkan legacy yang bisa dikenang jauh setelah usia 39 tahun berlalu. (NS-02)

Views: 0
Facebook
WhatsApp
Email