21 Petahana DPRD Maluku Ini Gagal Lanjut Wakili Suara Rakyat
ILUSTRASI KURSI DPRD

AMBON,Nunusaku.id,- Perhelatan pemilihan legislatif (Pileg) 2024 di Maluku telah usai. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Maluku sudah mengetok palu pengesahan dan penetapan 45 wakil rakyat yang akan melaju ke “Senayan” Karang Panjang-Ambon lima tahun kedepan, Selasa (19/3).

Sayangnya, ada 21 petahana dari 45 legislator itu yang dipastikan gagal lanjut wakili suara rakyat. Sebagian besar karena akumulasi suara personal dan partai mereka tak cukup banyak dari partai lain di tingkat provinsi.

Sedangkan beberapa diantaranya tak akan berkantor lagi di Karang Panjang, disebabkan tak maju sebagai kontestan di Pileg provinsi, maupun suaranya tak signifikan sebagai caleg DPR-RI.

Mereka antara lain dua politisi wanita berpengalaman di Dapil Maluku 1 (Kota Ambon), Ayu Hasanussy yang kali ini maju dari Gelora. Pileg 2019 Ayu terpilih dari partai Berkarya ke DPRD Maluku.

Selain Ayu, ada nama Elviana Pattiasina, legislator dua periode. Walau kantongi suara personal signifikan, tapi tak cukup membantu sebab akumulasi suara Demokrat kalah dari PKB yang meraup kursi kesembilan atau terakhir.

Nama lain di Dapil ini ialah Jantje Wenno. Politisi Perindo itu tak maju di Pileg 2024, karena memilih fokus pada kontestasi pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Di Dapil Maluku II (Buru-Bursel), petahana paling banyak bertumbangan. Sebut saja Azis Hentihu, Ketua Wilayah PPP Maluku. Azis miliki 8019 suara, tapi dikalahkan kompetitornya, Dali Fahrul Syarifudin dengan 8449 suara.

Lalu dua politisi Golkar, Gadis Umasugi dan Michel Tasane. Keduanya memang miliki 4529 suara dan 4603 suara, namun akumulasi suara Golkar kalah dari NasDem di kursi terakhir. Arni Soulisa dari PDI Perjuangan yang kalah dari keponakannya, Muhammad Akmal Soulisa.

Selanjutnya, di Dapil III (Maluku Tengah), Julius Pattipeiluhu tiga periode DPRD dari Hanura bersama Ruslan Hurasan dari PKB tumbang. Julius harus akui kedigdayaan M. Reza Mony, sementara Hurasan dikalahkan Sukri Wailissa, anggota DPRD Malteng.

Satu nama lain, Tina Tetelepta dari PDI Perjuangan yang PAW almarhum Edwin Huwae, turun tarung di Dapil Ambon IV (Baguala-Teluk Ambon) juga tak berhasil menjadi wakil rakyat setelah hanya berada di peringkat ketiga suara internal partai.

Di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) yang masuk Dapil Maluku IV dengan tiga kursi, hanya mampu dipertahankan Javet Pattiselano dari PDI Perjuangan. Fauzan Alkatiri dari PKS gagal bersaing dengan Ketua DPRD SBT, Noaf Rumau. Adapun Alimudin Kolatlena dari Gerindra yang “naik level” calon DPR-RI juga gagal.

Sementara di Dapil Maluku V (Seram Bagian Barat), politisi PKS Turaya Samal dan Iqbal Payapo harus berbesar hati tak lanjutkan periode kedua DPRD Maluku karena suara tak signifikan, yang membuat kursi PKS dan Hanura pun hilang. Lain hal dengan Samson Atapary dari PDI Perjuangan yang Pileg ini tidak turun “laga”.

Kegagalan bertahan di Baileo Karang Panjang-Ambon juga harus diterima Roy Pattiasina Ketua DPD Demokrat Maluku, Justina Renyaan dari NasDem dan Amir Rumra PKS dari Dapil Maluku VI (Tual, Malra dan Aru).

Roy yang dua periode DPRD kalah dari Hasyim Rahayaan, Justina “disingkirkan” politisi muda, Fauzan Rahawarin. Sementara Rumra yang bertarung di DPR-RI, juga tak sanggup melawan incumbent Saadiah Uluputty.

Tiga nama terakhir yang harus “angkat koper” dari Baileo Karang Panjang dari Dapil Maluku VII (Tanimbar-MBD) yaitu Tarce Fatlolon NasDem, Hengki Pelata Hanura dan Frankois Orno PDI Perjuangan.

Tarce, adik eks Bupati Tanimbar Petrus Fatlolon tak tarung karena alasan kesehatan. Pelata walau meraih suara lumayan, namun akumulasi suara partai kecil sehingga tak menolongnya.

Sedangkan Orno yang “pindah” labuhan ke DPD gagal bersaing dengan para petahana, setelah hanya tempati posisi 7 dari empat kursi yang diperebutkan. (NS)

Views: 3
Facebook
WhatsApp
Email