18 Anak Tanimbar Pulang Bawa Mahkota dari Festival Model Etnik Nusantara
IMG-20260915-WA0036

AMBON,NUNUSAKU.ID,— Panggung itu berada jauh dari tanah kelahiran mereka. Lampu-lampu sorot menyala terang, ratusan pasang mata tertuju ke atas panggung, sementara langkah-langkah kecil mulai bergerak membawa nama sebuah daerah kepulauan dari ujung Maluku.

Di usia yang masih belia, 18 anak asal Kabupaten Kepulauan Tanimbar memberanikan diri berdiri di panggung nasional.

Mereka datang dari daerah yang secara geografis jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, tetapi membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar keberanian untuk berkompetisi: identitas, budaya, talenta, dan kebanggaan sebagai anak-anak Tanimbar.

Awal September 2026 menjadi catatan penting bagi mereka. Di Gedung Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta Pusat, para peserta asal Bumi Duan Lolat tampil dalam Festival Model Etnik Nusantara Season 4.

Mahkota, piala dan berbagai penghargaan berhasil dibawa kembali ke Tanimbar. Namun, dibalik kilauan penghargaan tersebut, tersimpan cerita tentang keberanian anak-anak, kerja keras orang tua, pendampingan, serta sebuah harapan agar bakat generasi muda dari daerah kepulauan mendapatkan ruang yang lebih besar.

Keikutsertaan 18 anak tersebut berada di bawah naungan Echa Management Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Sejak persiapan hingga kompetisi berlangsung, para peserta didampingi untuk tampil membawa identitas daerah mereka.

Pemilik Echa Management Kabupaten Tanimbar, Frederik Leliak, yang akrab disapa Eca, menjelaskan, kontingen Tanimbar mengikuti dua kategori dalam ajang tersebut.

Kategori A diperuntukkan bagi anak usia 4 hingga 8 tahun, sementara Kategori B untuk peserta usia 9 hingga 12 tahun. Kedua kategori tersebut terbuka bagi peserta laki-laki maupun perempuan.

“Kita dari Kabupaten Kepulauan Tanimbar mewakili Kabupaten untuk mengikuti ajang Festival Model Etnik Nusantara Season 4 dan kita membawa 18 anak,” ujar Frederik di Ambon, Selasa (15/9).

Dari empat kategori yang diperlombakan, kontingen Tanimbar memilih mengikuti Kategori A dan B. Keputusan itu kemudian membuahkan hasil yang membanggakan.

Anak-anak Tanimbar berhasil meraih berbagai penghargaan, mulai dari juara umum, runner up, The Best Model, Best Talent, Best Performance, Best Costume, hingga penghargaan favorit media sosial.

Secara keseluruhan, 18 peserta tersebut berhasil mengoleksi 18 penghargaan, termasuk delapan mahkota yang berhasil dibawa pulang.

Diantara deretan nama dan penghargaan tersebut, satu nama menjadi sorotan.

Namanya Helen Nindy Rumahlaiselan, bocah berusia enam tahun yang akrab disapa Kaka Elen.

Usianya masih sangat muda. Namun diatas panggung nasional, keberaniannya justru mencuri perhatian.

Kaka Elen berhasil memborong tiga gelar sekaligus. Ia meraih Juara Umum Kategori Anak, The Best Model, serta Favorit Media Sosial.

Prestasi itu membuatnya membawa pulang tiga piala dan satu mahkota.

Penghargaan Favorit Media Sosial yang diraihnya juga menjadi catatan tersendiri. Ia disebut menjadi satu-satunya peserta lintas kategori anak dan dewasa yang mendapatkan predikat terfavorit media sosial.

Bagi sebuah kontingen yang datang dari wilayah kepulauan, capaian tersebut bukan sekadar angka dalam daftar penghargaan.

Ia menjadi gambaran bahwa kesempatan untuk tampil dapat membuka ruang bagi anak-anak daerah untuk menunjukkan kemampuan mereka di hadapan publik yang lebih luas.

Keberhasilan kontingen Tanimbar tidak lahir begitu saja, Ada proses panjang yang harus dilewati. Anak-anak harus mempersiapkan diri, belajar tampil di depan publik, memahami panggung, menjaga disiplin, sekaligus beradaptasi dengan suasana kompetisi yang berbeda dari lingkungan mereka sehari-hari.

Bagi Frederik, kemenangan yang diraih para peserta bukanlah akhir dari perjalanan.

Justru sebaliknya, piala dan mahkota tersebut harus menjadi awal dari pembinaan yang lebih serius.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Tanimbar dapat melihat potensi yang dimiliki anak-anak tersebut dan memberikan ruang agar bakat mereka tidak berhenti setelah kompetisi berakhir.

“Harapan kedepan mungkin Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar dapat melihat anak-anak ini dengan bakat dan talenta yang mereka miliki, sehingga bukan saja sebatas sampai di sini, tetapi ada keberlanjutan,” ujarnya.

Menurut Frederik, anak-anak yang sudah memiliki pengalaman tampil di panggung nasional dapat dilibatkan dalam berbagai kegiatan daerah.

Festival mode, kegiatan promosi budaya, kegiatan pariwisata, maupun agenda pemerintah daerah dapat menjadi ruang bagi mereka untuk kembali tampil.

“Kalau ada event yang terkait dengan festival mode seperti ini, mungkin mereka bisa dipakai di Kabupaten untuk memperkenalkan dunia fashionnya. Mereka sudah sampai di tingkat nasional,” katanya.

Bagi anak-anak Tanimbar, panggung modeling bukan hanya tentang cara berjalan, berpose atau mengenakan busana, Ada identitas daerah yang ikut dibawa.

Kehadiran mereka di Festival Model Etnik Nusantara menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Maluku, khususnya Kepulauan Tanimbar, kepada masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.

Busana dan unsur etnik yang melekat pada penampilan mereka menjadi bagian dari cerita tentang daerah asal.

Di atas panggung, anak-anak itu tidak hanya memperkenalkan diri akan tetapi, Mereka membawa nama Tanimbar.

Mereka membawa cerita tentang sebuah wilayah kepulauan yang memiliki kekayaan budaya, tradisi dan kreativitas yang tidak kalah dengan daerah lain.

Perjalanan menuju panggung nasional tersebut juga tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Frederik menyampaikan, Echa Management memperoleh rekomendasi dari pemerintah daerah untuk membawa nama Kabupaten Kepulauan Tanimbar dalam ajang tersebut.

Dan kita juga didukung oleh pemerintah lewat rekomendasi yang kami dapat dari Pimpinan Daerah Kepulauan Tanimbar, katanya.

Dukungan tersebut menjadi penting karena keikutsertaan dalam ajang nasional tidak hanya berkaitan dengan kesiapan peserta, tetapi juga menyangkut bagaimana identitas daerah dapat dibawa secara resmi ke ruang yang lebih luas.

Dibalik keberhasilan kolektif tersebut, masing-masing anak memiliki cerita dan pencapaian sendiri.

1, Helen Nindy Rumahlaiselan menjadi salah satu yang paling menonjol dengan tiga gelar sekaligus.

2, Edita Junianty Futwembun meraih Runner Up III.

3, Afiyah Asmarah membawa pulang Juara Harapan III dan Best Performance.

4, Hafidzah Dzikra meraih Runner Up II dan Best Talent.

5, Naomi Cristabel Sorlury meraih Runner Up II.

6, Christiano Ridolfis Warkey meraih Runner Up II.

7, Maria Putri Futwembun meraih Runner Up III.

8, Agustinus Hendra Timothy Feninlambir meraih Runner Up I.

9, Meyrab Q. R. Melrangrengi meraih Juara Harapan II dan Best Performance.

10, Antonius Laratmase Best Costume

11, Angelin Nalizta Nureroan Best Costume.

12, Allin Azaquerra Jadera meraih Best Talent.

13, Alfita Karunia Erupley meraih The Best Model.

14, Hermanus Fenyapwain meraih Juara Umum.

15, Nadya Alexandra Ory meraih The Best Post.

16, Justus Aurelyo Kelitadan meraih Juara Harapan I.

17, Anna Julia Sainyakit meraih Juara Umum Berbakat.

18, Sementara Ayu T. N. Nuniary meraih Juara Harapan I dan Best Talent.

Deretan nama tersebut kemudian menjadi bagian dari satu cerita besar: 18 anak Tanimbar yang berani membawa nama daerahnya ke panggung nasional.

Kini, panggung di Jakarta telah mereka tinggalkan, Lampu-lampu sorot telah padam. Tepuk tangan penonton telah berlalu. Piala dan mahkota telah dibawa pulang.

Namun, pengalaman yang mereka dapatkan akan tinggal lebih lama.

Di usia yang masih sangat muda, mereka telah belajar bagaimana berdiri di hadapan orang banyak, menghadapi persaingan, menjaga kepercayaan diri, bekerja bersama, dan membawa nama daerah di luar tanah kelahiran mereka.

Bagi Echa Management, capaian tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan anak-anak daerah memiliki hasil ketika dilakukan dengan serius.

Dan bagi Tanimbar, 18 anak itu telah membawa pulang sesuatu yang lebih besar daripada piala.

Mereka membawa cerita tentang keberanian, Mereka membawa kebanggaan keluarga, dan ereka membawa identitas budaya Tanimbar.

Dan yang paling penting, mereka membawa sebuah pesan bahwa jarak geografis tidak seharusnya menjadi batas bagi anak-anak daerah untuk bermimpi.

Dari panggung Festival Model Etnik Nusantara Season 4 di Jakarta, langkah kecil 18 anak Tanimbar telah meninggalkan jejak.

Mahkota mungkin menjadi simbol kemenangan, Tetapi perjalanan mereka baru saja dimulai. (NS-02)

Views: 12
Facebook
WhatsApp
Email